Rusia Kirim Tentara, Krisis Ukraina Masih Jauh dari Usai

Krisis di Ukraina tampaknya masih jauh dari kata usai, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin meminta parlemen tinggi untuk melakukan aksi militer di Provinsi Crimea.
Arys Aditya | 02 Maret 2014 00:55 WIB
Langkah Putin ini mengafirmasi bahwa tentara tak dikenal yang menduduki gedung parlemen memang dikomando dari Moskow. - reuters

Bisnis.com, BALACLAVA - Krisis di Ukraina tampaknya masih jauh dari kata usai, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin meminta parlemen tinggi untuk melakukan aksi militer di Provinsi Crimea.

Putin berargumen bahwa pengiriman pasukan ke Crimea hanya untuk melindungi warga beretnis Rusia yang tinggal di provinsi itu, namun hal tersebut juga meningkatkan potensi disintegritas di Ukraina yang mencemaskan bagi AS, Uni Eropa, dan negara di kawasan, seperti Polandia dan Belarusia.  

Langkah yang diambil Putin ini sekaligus mengafirmasi bahwa tentara tak dikenal yang menduduki gedung parlemen, dua bandara dan beberapa bangunan strategis di Crimea memang dikomando dari Moskow.

"Dalam kaitannya dengan situasi luar biasa di Ukraina, mengingat meningkatnya ancaman kepada warga Federasi Rusia, kompatriot kita, saya mengajukan proposal untuk menggunakan kekuatan militer Rusia di teritori Ukraina sampai terjadi normalisasi situasi sosio-politik di negara itu," ujar Putin, seperti dikutip Reuters, Sabtu (1/3/2014).

Apa yang dilakukan Putin ini memunculkan reaksi dari aliansi NATO. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan dirinya telah berbincang dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan meminta Lavrov menurunkan ketegangan di Ukraina.

Sebelumnya, kehadiran tentara Rusia di jalanan Crimea didukung oleh sebagian besar warga. Seperti di Balaclava, warga memberi semangat kepada konvoi kendaraan militer tanpa emblem, yang telah disangka berasal dari Rusia.
 
"Saya ingin hidup bersama Rusia. Saya ingin bergabung dengan Rusia. Mereka melindungi kami, jadi kami merasa aman," tutur Alla Batura, warga Balaclava berusia 71 tahun.

Tag : vladimir putin, Krisis Ukraina
Editor : Fatkhul-nonaktif

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top