Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor Kopi, Jabar Amankan Harga dengan Resi Gudang

Asosiasi Ekspotir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Barat menerapkan sistem resi gudang sebagai strategi peningkatan harga jual kopi di pasar ekspor pada 2014 di tengah fluktuasi harga kopi dunia yang tidak bisa diprediksi.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Oktober 2013  |  19:53 WIB
Ekspor Kopi, Jabar Amankan Harga dengan Resi Gudang
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG - Asosiasi Ekspotir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Barat menerapkan sistem resi gudang sebagai strategi peningkatan harga jual kopi di pasar ekspor pada 2014 di tengah fluktuasi harga kopi dunia yang tidak bisa diprediksi.   

Wakil Ketua AEKI Jabar Iyus Supriatna mengemukakan pihaknya membangun konsinyasi, yang bekerja sama dengan resi gudang, untuk mengamankan stok kopi yang dapat dijual saat harga kopi dunia sedang bagus.  Sebaliknya, apabila harga kopi dunia turun, petani dapat menyimpannya di gudang tersebut menunggu harga kembali tinggi.

"Memanfaatkan fluktuasi harga ini sering disebut juga dengan penjualan titipan, di mana 70% produksi kopi dijual petani, sisanya disimpan di gudang menunggu selisih harga yang lebih tinggi," katanya kepada Bisnis, Rabu (30/10).

Dia menjelaskan resi gudang ini bisa menampung sekitar 5.000 ton, sehingga diharapkan Jabar mampu mengekspor kopi secara mandiri, dan tidak tergantung pada daerah lain.

Tidak hanya itu, AEKI menargetkan produksi kopi Jabar 2014 lebih mengarah pada kopi dengan kualitas paling baik (specialty), agar bernilai dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan kopi reguler.

Namun, syarat specialty kopi tersebut petani harus melakukan rangkaian proses produksi yang panjang agar hasilnya semakin berkualitas. "Saat ini harga jual kopi reguler sekitar Rp20.000 hingga Rp27.000 per kg, sedangkan untuk specialty kopi dijual Rp70.000 hingga Rp98.000 per kg," ungkapnya.

Adapun produksi kopi pada tahun ini meneningkat sekitar 5% menjadi 15.000 ton dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 14.250 ton. "Pasar kopi ini tidak terbatas, sehingga potensi peningkatan pasar ekspor terus diperbesar," ujarnya.

Menurut Iyus, selama ini produktivitas tahunan kopi Jabar tergolong rendah dibandingkan dengan produksi nasional, yakni 600 kg/hektare, sedangkan produksi kopi nasional mencapai 750 kg/hektare.

Kualitas kopi Jabar juga perlu ditingkatkan dengan cara memberikan pelatihan bagi para petani. “Pelatihan dimulai dari pembibitan, proses budi daya, pengolahan kopi, penyimpanan, hingga proses panen.”

Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung mengungkapkan hingga saat ini pihaknya masih kesulitan untuk melakukan sertifikasi kopi asli kawasan ini guna memperbesar pasar ekspor.

Kepala Distanbunhut Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan proses sertifikasi kopi terkendala akibat administrasi dan birokrasi yang rumit. Padahal, ekspor kopi di Jabar terbesar berasal dari Kabupaten Bandung.

“Kami masih terus melakukan sertifikasi kopi ini. Meski rumit, kami tetap berkomunikasi secara intensif dengan petani agar mereka terus mengembangkan jenis kopi terbaik asal Kabupaten Bandung,” tuturnya.

Menurut Tisna, kopi Kabupaten Bandung berjenis arabika yang sudah tembus pasar ekspor dengan kualitas tinggi.

Namun, belum adanya sertifikasi itu membuat eksportir sedikit kesulitan untuk mengembangkan pasar, karena beberapa negara menerapkan standar kualitas kopi yang berbeda-beda.

“Kami akan menggelar workshop tentang kopi pada 6 November 2013 dengan mengundang petani dan pengusaha. Mudah-mudahan dalam workshop ini bisa mempercepat sertifikasi kopi,” ujar Tisna.

Berdasarkan data tanaman kopi di Kabupaten Bandung pada 2012 mencapai 9.717 hektare dengan produksi 6.542,17 ton kopi kering.(k29/k32)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aeki kopi indonesia hkti jabar
Editor : Bambang Supriyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top