Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sistem Pendidikan Jadi Tantangan Utama Pada 2045

Bisnis.com, JAKARTA - Pendidikan belum dijadikan sebagai panglima pembangunan nasional. Jadi, tak mengherankan bila pendidikan belum dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, yang menghasilkan sumber daya manusia terdidik, memiliki berbagai skill untuk meningkatkan
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 04 September 2013  |  18:18 WIB
Sistem Pendidikan Jadi Tantangan Utama Pada 2045
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pendidikan belum dijadikan sebagai panglima pembangunan nasional. Jadi, tak mengherankan bila pendidikan belum dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, yang menghasilkan sumber daya manusia terdidik, memiliki berbagai skill untuk meningkatkan daya saing bangsa. 

Kondisi kehidupan bangsa yang kurang cerdas ini, tentu akan menghambat perkembangan dan melemahkan daya saing bangsa.

"Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negeri ini pada 2045, adalah ledakan penduduk usia produktif (15-64 tahun)," kata Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Marsekal Madya Dede Rusamsi, di sela-sela Seminar Nasional Paradigma Baru Pendidikan Nasional Guna Menyongsong 100 Tahun Indonesia Merdeka, Dalam Rangka Ketahanan Nasional, Rabu (4/9/2013).

Dede menuturkan pada kurun waktu 2020-2035, bonus demografi ini akan mencapai 50%-60% dari total populasi penduduk. Sebagian dari penduduk usia produktif itu yang lahir pada 2005, sekarang ini bersuai 8 tahun.

"Untuk menghadapi itu, pemerintah harus mempersiapkan dan memperhatikan secara serius bidang pendidikan dan kesehatan penduduk, sehingga mereka tumbuh sebagai aset bangsa, dan bukan menjadi beban bangsa," katanya.

Menurut Dede, Indonesia perlu belajar dari negara maju seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Korea Selatan dalam bidang pendidikan. Misalnya di Amerika, sistem pendidikan untuk SD-SMA desentralisasi, sedangkan di Indonesia masih sentralistik.

Sementara itu di Jepang, lanjutnya, ada sanksi hukum bagi orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya pada masa wajib belajar. Masyarakat Jepang melihat profesi guru yang humanis, tidak boleh dibebani dengan pekerjaan administratif yang berlebihan.

Sedangkan di China kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Menghapuskan bahaya sistem hapalan, drilling, pengajaran yang kaku, dan pendidikan yang hanya berorientasi untuk lulus ujian.

Prof. Djagal W. Marseno, Ketua Seminar yang diikuti oleh 80 peserta yang mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIX Lemhanas ini, menambahkan tema yang diangkat untuk mengantisipasi perubahan yang signifikan dalam bentuk tantangan dan tuntutan jaman di abad ke-21.

Dia mengatakan pemicu utamanya adalah pertumbuhan jumlah penduduk yang akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan terhadap pangan, energi, air, dan kebutuhan hidup lainnya. Juga mengantisipai persaingan dan memanfaatkan peluang yang akan muncul menyertai pertumbuhan tersebut.

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut diperlukan SDM yang intelektual, memiliki Iptek, berkarakter, semangat dan kepercayaan diri yang baik. "Usaha pemenuhan SDM untuk semua itu, salah satunya disediakan secara efektif melalui pendidikan nasional," ungkap Djagal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pendidikan penduduk lemhanas
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top