Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKONOMI SULTENG: Sektor Tambang Bukan Migas Picu Pertumbuhan

BISNIS.COM, PALU--Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I/2013 pada sektor pertambangan dan penggalian cukup tinggi yaitu 70,07% dipicu pertumbuhan sub sektor pertambangan bukan migas yang bertumbuh 157,70%. 
Mochammad Subarkah
Mochammad Subarkah - Bisnis.com 06 Mei 2013  |  15:36 WIB
EKONOMI SULTENG: Sektor Tambang Bukan Migas Picu Pertumbuhan
Bagikan

BISNIS.COM, PALU--Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah triwulan I/2013 pada sektor pertambangan dan penggalian cukup tinggi yaitu 70,07% dipicu pertumbuhan sub sektor pertambangan bukan migas yang bertumbuh 157,70%. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng Yohanes De Brito Priyono mengatakan pada triwulan I/2013 semua sektor mengalami peningkatan.

PDRB total meningkat sebesar 10,57% dengan pertumbuhan sektoral tertinggi berada pada sektor pertambangan dan penggalian, disusul urutan kedua pada sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan sebesar 12,10%.

Namun, sektor pertanian tetap menjadi satu sumber pertumbuhan tertinggi.

Sementara yang lainnya, seperti sektor pertanian sebesar 6,72%, sektor industri manufaktur 5,14%, sektor listrik, gas dan air bersih 8,31%, sektor konstruksi 8,23%, sektor perdagangan, hotel dan restoran 1,30%, pengangkutan dan komunikasi meningkat  8,39%, serta sektor jasa-jasa 9,34%.

“Namun demikian, sektor pertanian masih merupakan salah satu sumber pertumbuhan utama perekonomian Sulteng pada triwulan I/2013 yang tumbuh 6,72%. Sektor ini mempunyai peranan yang cukup penting dalam perekonomian karena total nilai tambahnya yang terbesar,” kata Yohanes, Senin (6/5/2013).

Dia menambahkan pertumbuhan sektor pertanian karena terjadi peningkatan produksi di sub-sektor tanaman bahan makanan sebesar 5,49%, subsektor perkebunan 7,18%, sub-sektor perikanan yang mencapai 11,60%, sub sektor peternakan 7,27% dan kehutanan 0,48%.

Sementara itu, nilai PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan IV/2012 mencapai Rp13,83 triliun, kemudian pada triwulan I/2013 menjadi Rp13,67 triliun.

Selanjutnya nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 triwulan IV/2012 sebesar Rp5,62 triliun dan pada triwulan I/2013 menurun menjadi Rp5,53 triliun.

Lebih lanjut dia merinci, pada triwulan I/2013 sektor penunjang besaran PDRB atas dasar harga berlaku yaitu sektor pertanian sebesar Rp4,81 triliun, kemudian sektor jasa-jasa sebesar Rp2,37 triliun.

Disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran Rp1,57 triliun, sektor industri manufaktur Rp877 miliar, sektor pengangkutan dan komunikasi Rp953 miliar, sektor konstruksi Rp1,06 triliun, sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan Rp653 miliar, sektor pertambangan dan penggalian Rp1,27 triliun, serta sektor listrik, gas dan air bersih Rp89 miliar. 

Sedangkan untuk PDRB atas dasar harga konstan 2000, setiap sektor lapangan usaha memberikan nilai tambah bruto yang besarannya berbeda yaitu sektor pertanian sebesar Rp2,05 triliun, kemudian sektor jasa-jasa Rp866 miliar.

Disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp672 miliar, sektor pengangkutan dan komunikasi Rp405 miliar, sektor industri manufaktur Rp314 miliar dan sektor konstruksi Rp417 miliar.

Kemudian sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan sebesar Rp262 miliar, sektor pertambangan dan penggalian Rp504 miliar serta sektor listrik, gas dan air bersih Rp38 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas Pertumbuhan Ekonomi sulawesi tengah badan pusat statistik sektor tambang

Sumber : Mochammad Subarkah

Editor : Wiwiek Endah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top