Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BISNIS HOTEL: Persaingan Usaha di Semarang Tak Sehat Gara-Gara Ini

BISNIS.COM, SEMARANG--Perkembangan bisnis perhotelan di Kota Semarang mulai menunjukkan persaingan tidak sehat, menyusul terjadinya perang tarif yang tidak wajar dengan saling menurunkan harga antar hotel berbintang.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 23 April 2013  |  19:24 WIB

BISNIS.COM, SEMARANG--Perkembangan bisnis perhotelan di Kota Semarang mulai menunjukkan persaingan tidak sehat, menyusul terjadinya perang tarif yang tidak wajar dengan saling menurunkan harga antar hotel berbintang.


Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Semarang, Heru Isnawan mengatakan persaingan bisnis perhotelan mulai terlihat tidak sehat dengan saling menurunkan harga yang tidak wajar, terjadi sejak empat bulan terakhir.

“Fenomena perang tarif terjadi akibat demand dan suplay tidak berimbang, karena pertumbuhan hotel baru begitu pesat sedangkan tingkat hunian relatif masih rendah,” ujarnya, kepada Bisnis, Selasa (23/4/2013).

Kondisi tersebut, lanjutnya mendorong kalangan perhotelan saling berebut menggaet calon tamu sebanyak mungkin, tetapi yang dilakukan sebagian dari mereka adalah dengan cara menurunkan tarif kamar hotel tidak semestinya.

Terutama hotel bintang lima dan empat yang menawarkan tarif seharga bintang tiga.

“Kalau ini dibiarkan, kasihan hotel bintang yang kelasnya kecil, bahkan untuk kelas melati mereka lama-kelamaan pasti akan gulung tikar. Selain itu akan mempengaruhi citra kota setempat bagi para investor,” tuturnya.

Pihaknya meminta Pemerintah Kota Semarang untuk memperhatikan secara serius hal tersebut, karena pangkal persoalannya adalah tidak terkejarnya pertumbuhan demand dengan pertumbuhan supplay.

“PHRI tidak anti investor baru, tapi sebaiknya ketika berinvestasi juga dilihat perkembangan daerah itu secara matang. Selain itu, pemkot setempat dalam memberikan informasi kondisi bisnis perhotelan di Semarang secara menyeluruh, tidak perlu malu, dari pada mengecewakan calon investor yang justru berdampak kehilangan kepercayaan,” tuturnya.

Dia mengatakan, saat ini dari total 39 hotel berbintang di Kota Semarang dengan 4.000 unit kamar di dalamnya, city okupansinya rata-rata maksimal hanya 60%.

Tentu ini berbahaya apabila ada tambahan hotel baru lagi, yang ada justru malah turun city okupansinya.

“Tingkat okupansi ini menurut saya masih menandakan belum layaknya Kota Semarang untuk dibangun hotel baru lagi, apalagi kondisi sekarang ini saat weekend banyak hotel berbintang yang kosong dan justru keluar dari Kota Semarang,” ujarnya.

General Manager Hotel Horison Semarang Bambang ‘Benk’ Mintosih mengatakan saat ini Kota Semarang sudah menunjukkan arah kejenuhan untuk hadirnya hotel baru, meskipun setahun terakhir sedikit menunjukkan peningkatan demand.

“Kejenuhan ini indikasinya adalah mulainya terjadi perang tarif tidak wajar antar hotel berbintang, sehingga membuat iklim bisnis ini menjadi tidak sehat, dan ini berbahaya apabila dibiarkan terus-menerus,” tuturnya.

Pihaknya meminta kalangan perhotelan untuk berbisnis secara elegan dengan memasang tarif sewajarnya, selain itu mendesak Pemerintah Kota Semarang untuk tidak mudah memberikan ijin pendirian hotel baru.

Apalagi saat ini beredar informasi bakal hadir belasan hotel baru di Kota Semarang.

“Karena awal mula perang tarif diakibatkan tidak imbangnya supplay dan demand. Saat ini supplay kamar hotel yang ada di Kota Semarang tumbuh sangat pesat diatas 50% sementara pertumbuhan demand tidak sampai 10%,” tuturnya.

Pihaknya berharap Pemerintah Kota Semarang dapat memperketat hadirnya hotel baru, sambil melakukan pengembangan kota menjadi lebih baik lagi, sehingga mampu meningkatkan city okupansi minimal 70%, setelah itu mulai ditambah lagi suplainya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis hotel semarang bisnis hotel
Editor : Yoseph Pencawan - nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top