KISRUH SUDAN: DK PBB ancam jatuhkan sanksi

NEW YORK: Dewan Keamanan PBB Selasa, membahas peluang menjatuhkan sanksi bagi Sudan Selatan dan Sudan dalam upaya untuk mencegah dua negara yang saling bersaing itu kembali ke medan perang, kata para diplomat.Tapi dua negara itu telah terkunci dalam
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 April 2012  |  01:59 WIB

NEW YORK: Dewan Keamanan PBB Selasa, membahas peluang menjatuhkan sanksi bagi Sudan Selatan dan Sudan dalam upaya untuk mencegah dua negara yang saling bersaing itu kembali ke medan perang, kata para diplomat.Tapi dua negara itu telah terkunci dalam logika perang dengan kelompok garis keras mengendalikan kedua negara, kata utusan perdamaian internasional kepada dewan.Dewan Keamanan yang terdiri dari 15 negara itu menuntut agar pasukan Sudan Selatan menarik diri dari zona minyak utara, Heglig. Sementara itu pihak utara harus mengakhiri serangan udara lintas perbatasan, kata Susan Rice, Duta Besar AS dan presiden Dewan Keamanan untuk periode bulan April.DK PBB juga menegaskan kembali seruan untuk segera mengakhiri segala bentuk pertempuran secara "menyeluruh, segera, dan tanpa syarat".Dewan Keamanan "membahas cara-cara untuk meningkatkan pengaruh dewan guna menekan pihak-pihak yang terlibat untuk segera mengambil langkah-langkah tersebut dan termasuk membahas mengenai potensi pemberlakuan sanksi," kata Rice kepada wartawan.Thabo Mbeki, mediator bagi Sudan dan Sudan Selatan yang juga mantan presiden Afrika Selatan, dan Utusan PBB Haile Menkarios, memberikan penjelasan singkat kepada DK PBB mengenai penyebaran konflik di sepanjang perbatasan.Mbeki mengatakan Sudan terjebak dalam "logika perang," menurut diplomat dalam rapat."Kedua utusan menekankan bahwa kelompok garis keras menang baik di Juba dan Khartoum serta mendesak Dewan Keamanan untuk membujuk kedua pemerintah menahan diri dan kembali ke posisi masing-masing," kata Rice. (Antara/AFP/arh) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top