KOPERASI MALANG didesak garap sektor riil

 
News Editor | 03 April 2012 17:39 WIB

 

MALANG: Pemkot Malang mendesak insan koperasi di kota tersebut pada kegiatan pengembangan sektor riil, tidak melulu kegiatan simpan pinjam agar pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut bisa tumbuh lebih cepat.
 
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kota Malang Bambang Suhariyadi mengatakan 748 koperasi di daerah tersebut, 90% diantaranya bergerak pada kegiatan simpan pinjam.
 
“Kalau melulu simpan pinjam, biasanya orientasi usaha koperasi untuk memperoleh SHU yang tinggi, belum mengarah pada upaya menggerakkan sektor riil,” katanya hari ini.
 
Untuk menggerakkan sektor riil, maka orientasi kegiatan koperasi harus dikembangkan. Mereka perlu merambah pada kegiatan produktif, seperti perdagangan dan produksi.
 
Potensi mengembangkan koperasi produktif, kata dia, cukup besar. Banyak sentra-sentra ekonomi produktif, seperti kawasan pengrajin makanan olahan maupun tempe, keramik, maupun batik.
 
Jika melulu pada kegiatan simpan pinjam, lanjut Bambang, biasanya pembiayaan koperasi pada aspek konsumsi. Dengan demikian maka kurang berdampak luas terhadap percepatan pertumbuhan perekonomian di Kota Malang.
 
“Desakan kepada koperasi agar melirik kegiatan sektor riil itu selalu saya sampaikan kepada pengurus koperasi saat menghadiri berlangsung RAT [rapat anggota tahunan] koperasi. Sampai saat ini, sudah 344 koperasi yang telah menyelenggarakan RAT,” katanya.
 
Selain itu, pihaknya mendorong Asosiasi Koperasi Ritel (AKRI) Kota Malang untuk dapat memasok kebutuhan anggotanya dengan menembus bahan-bahan kebutuhan dari produsen langsung.
 
Dengan begitu, maka koperasi ritel anggota AKRI bisa memperoleh bahan-bahan kebutuhan dagangan  dengan harga yang lebih murah daripada memperoleh dari pedagang besar. Dia yakinkan, jika usaha koperasi menyentuh sektor riil maka eksistensi mereka akan lebih kokoh.
 
Dampak BBM
 
Sementara itu, Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Budi Wanita (SBW) Jatim menyiapkan dana Rp250 juta untuk membantu nasabah yang usahanya tersendat karena terdampak kenaikan bahan bakar minyak –jika kebijakan tersebut jadi diluncurkan pemerintah.
 
Ketua Kopwan SBW Jatim Sri Untari Bisowarno, mengatakan jika BBM naik hampir dipastikan akan berdampak pada usaha kecil mikro (UKM) milik nasabah koperasi tersebut.
 
“Untuk mencegah angka bad debt, maka kami menyiapkan program SBW Peduli berupa pinjaman lunak atau tanpa bunga bagi nasabah yang terdampak kenaikan BBM,” katanya.
 
Jika BBM benar-benar dinaikkan, maka nantinya akan diteliti nasabah-nasabahnya yang usahanya terpukul terdampak kenaikan bahan bakar tersebut. Kondisi usaha nasabah yang terpukul namun berpotensi untuk dikembangkan akan dibantu dengan pembiayaan tanpa bunga.
 
Dengan begitu, maka nasabah tersebut berkemampuan lagi untuk mengangsur pembiayaan sehingga angka  bad debt bisa dijaga agar tidak melonjak. Saat ini, angka bad debt masih rendah, hampir nol persen karena sistem  tanggung renteng.(sut)

Sumber : Choirul Anam

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top