Pembatasan BBM tak ganggu investasi otomotif

JAKARTA: Investasi di sektor otomotif tidak akan terganggu oleh rencana kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan bahan bakar bersubsidi sekaligus upaya mengurai masalah kemacetan lalu lintas melalui pengaturan penggunaan kendaraan roda empat di
News Editor
News Editor - Bisnis.com 07 Juli 2011  |  06:52 WIB

JAKARTA: Investasi di sektor otomotif tidak akan terganggu oleh rencana kebijakan pemerintah untuk membatasi penggunaan bahan bakar bersubsidi sekaligus upaya mengurai masalah kemacetan lalu lintas melalui pengaturan penggunaan kendaraan roda empat di kota-kota besar.Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan industri otomotif nasional mulai berkembang karena dinilai merupakan lokasi ideal secara geografis dan ekonomi untuk menjadi tempat produksi. Menurut dia, berbagai rencana pemerintah untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi, tidak akan menjadikan investor khawatir akan prospek investasinya di Indonesia.Otomotif Indonesia mulai berkembang karena Indonesia mulai ideal secara geografis dan ekonomi untuk tempat produksi. Soal efisiensi penggunaan BBM, terutama yang bersubsidi, tidak akan mengganggu rencana calon investor karena mereka menyasar sebagian besar pasar ekspor di kawasan dan sebagiannya baru domestic, katanya Rabu malam.Seperti diketahui, beberapa calon investor baru dan investor lama berencana melakukan ekspansi bisnis di Indonesia. Tercatat Toyota, Daihatsu, Suzuki, Nissan, BMW, General Motors, Piaggio, Volkswagen, dan Tata Motors yang juga menguasai Jaguar dan Land Rover akan investasi miliar dolar di Indonesia.Di sisi lain, setelah gagal dalam mengontrol konsumsi BBM bersubsidi yang ditandai dengan lonjakan konsumsi dan permintaan tambahan kuota BBM bersubsidi tahun ini sebanyak 2 juta kiloliter, pemerintah mewacanakan konsep kebijakan baru untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi. Berbagai rencana kebijakan, seperti penerapan ERP (electronic road pricing) di lima kota besar, pembatasan penggunaan kendaraan pada Senin dan Jumat untuk kendaraan gelap dan terang, dan rotasi penggunaan kendaraan berdasarkan pelat nomor genap dan ganjil.Hidayat mengatakan kemacetan yang dituding sebagai biang kerok lonjakan konsumsi BBM bersubsidi juga bisa diatasi dengan dua hal, yaitu melengkapi infrastruktur, manajemen lalu lintas yang baik, serta penegakan aturan. Itu saja yang dilakukan. Kami akan diskusi, pertama dengan Gubernur DKI bagaimana manajemen trafik yang baik untuk mengurangi kepadatan. Yang penting sebenarnya law enforcement. Industri otomotif terus akan tumbuh dan sejauh ini menjadi champion [tingkat pertumbuhan industri tertinggi] dan tidak ada hubungan antara pembatasan BBM bersubsidi dan industri otomotif.Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi menambahkan pemerintah optimistis komitmen investasi yang telah disampaikan calon investor kepada pemerintah akan direalisasikan. Kepercayaan diri pemerintah, katanya, juga didasarkan pada perkembangan terakhir yang menunjukkan keseriusan calon investor untuk berinvestasi di Indonesia.Saya termasuk yang optimistis. Seperti Suzuki itu terus melakukan pertemuan intensif dua pekan sekali dengan pemerintah untuk menyiapkan rencana investasinya senilai US$800 juta. Nanti, 25 Juli kita akan kembali bertemu untuk membicarakan rencana investasi di sektor otomotif, katanya tanpa memberikan detail informasi calon investor yang dimaksud.Sebelumnya, Komisaris Indomobil Gunadi Shinduwinata mengatakan berbagai rencana kebijakan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan memberikan dampak negatif terhadap penjualan mobil. Menurut dia, kendaraan baru terutama di atas 2005 telah menggunakan teknologi mesin yang sesuai dengan perkembangan penyediaan bahan bakar ramah lingkungan, seperti bensin RON 92 dan RON 95. (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top