Telkom pastikan ingin menjadi mayoritas

News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2010  |  08:50 WIB

JAKARTA: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memastikan konsolidasi unit usaha Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak akan terealisasi pada tahun ini karena proses evaluasi masih berlangsung.

"Tidak gampang merealisasikan konsolidasi antara dua pemain ini. Bagi industri atau kedua manajemen ini merupakan isu yang besar. Kami tidak mau terburu-buru. Agenda ini pun tidak ada di Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa [RUPSLB]," tegas Pjs Head of Corporate Communication Telkom Eddy Kurnia hari ini.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada tahapan-tahapan yang mengarah ke sesuatu yang lebih jauh terkait aksi korporasi itu walau tim internal secara terus-menerus melakukan kajian terkait legal compliance, keuangan, infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), lisensi, dan frekuensi.

"Kami bergerak di industri dengan tingkat persaingan yang ketat. Masalah konsolidasi itu tidak hanya bicara dengan satu operator, tetapi semuanya. Sejauh ini dengan BTEL yang cocok dilihat dari skala ekonomis," tuturnya.

Dalam konsolidasi yang terjadi nanti, tambahnya, posisi Telkom akan mayoritas sebagaimana yang terjadi dengan aksi akuisisi selama ini dilakukan oleh perseroan.

"Kami tentu harus mayoritas. Sama seperti mengakuisisi Admedika, Sigma Cipta Caraka, atau Scicom. Telkom pun akan menjadikan entitas baru nantinya sebagai perusahaan yang sehat. Masalah hutang dari rekanan tentu kita akan jeli mengevalusinya. Kita tidak ceroboh, terutama masalah hutang," tegasnya.

Berdasarkan laporan keuangan BTEL per Juni 2010, pada 16 Juli 2010 salah satu emiten Grup Bakrie ini kembali berutang sebesar US$30 juta. Setelah itu pada 12 Agustus 2010 berhutang RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Tambahan utang ini membuat beban bunga yang dibayarkan oleh BTEL kembali menanjak sehingga menekan bottom line perseroan. Tercatat, laba bersih BTEL pada semester I lalu anjlok drastis 96,29 % dari Rp72,8 miliar menjadi tinggal Rp2,7 miliar.

Ketua Umum DPP Serikat Karyawan Telkom Wisnu Adhi Wuryanto menegaskan, masih dalam posisi menolak rencana konsolidasi antara unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) milik Telkom dengan BTEL."Kami tetap dalam posisi menolak. Jika ada direksi dan komisaris Telkom yang pro penjualan aset negara masih terpilih pada RUPSLB besok, kami minta diganti," tegasnya. Jika konsolidasi terjadi, tambahnya, unit usaha baru itu akan dijual ke investor asing seperti dari Korea Selatan dan China. "Jika itu benar terjadi namanya penjualan aset negara secara serampangan. Ditambah lagi beban hutang BTEL sebagian ditanggung oleh Telkom," katanya.

Eddy Kurnia melanjutkan pembicaraan dengan Bakrie Telecom yang memiliki produk Esia ini masih terus berlangsung dan belum mengarah pada keputusan.

Aksi ini bisa go atau not go. Kami tentunya mempertimbangkan berbagai aspek dan kajian komprehensif untuk melakukan hal ini, karena sebelumnya kami juga pernah membicarakan dengan operator telekomunikasi lainnya, ujarnya.

Operator lain yang dimaksud Edy diantaranya PT Indosat Tbk, PT Mobile-8 Telecom Tbk dan perusahaan lain.

Namun, perseroan memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan tersebut karena dari sisi pengembangan usaha tidak memberi keuntungan.

Dalam bisnis, diskusi antar korporasi itu hal biasa. Kami tentunya menginginkan bisnis ini berkembang dan menjadi besar, tuturnya.

Dalam kesempatan lain, Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya Bakrie sempat mengutarakan aksi korporasi yang melibatkan dua perusahaan terbuka itu dapat dilakukan tahun ini.

Anindya mengaku pihaknya belum dapat menentukan apakah akan melakukan akuisisi atau merger, serta menetapkan nilai atas aksi korporasi itu.

Opsi dan valuasi belum dapat disampaikan masih dalam pembicaraan dan harus ada kesepakatan. Kami sangat berhati-hati dalam memutuskan ini, jelasnya.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top