Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengamat Pertanian Bongkar Penyebab Kenaikan Harga Beras, Imbas Bansos?

Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengungkap biang kerok kenaikan harga beras.
Presiden Jokowi menyerahkan bantuan pangan atau bansos cadangan beras pemerintah (CBP) kepada masyarakat penerima manfaat di Gudang Bulog Meger, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, pada Rabu (31/1/2024).
Presiden Jokowi menyerahkan bantuan pangan atau bansos cadangan beras pemerintah (CBP) kepada masyarakat penerima manfaat di Gudang Bulog Meger, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, pada Rabu (31/1/2024).

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengungkap biang kerok kenaikan harga beras. Ia menganggap bahwa kenaikan harga beras tidak ada sangkut pautnya dengan bantuan sosial alias bansos.

Harga beras sejauh ini mengalami kenaikan. Berdasarkan panel harga pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras kualitas premium terpantau naik 1,21% menjadi Rp15.940 per kilogram. Harga beras kualitas medium turun tipis 0,36% menjadi Rp13.880 per kilogram, hingga Selasa (13/2/2024) pukul 09.09 WIB. 

Adapun harga beras masih di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No.7/2023 sebesar Rp10.900-Rp11.800 per kilogram untuk beras medium dan Rp13.900 - Rp14.800 per kilogram untuk beras premium.

Menurut Khudori, penyebab kenaikan harga beras bukan berarti imbas dari bansos yang dibagikan pemerintah, karena bansos yang diberikan tidak semua berupa beras. 

"Tidak bisa ditarik langsung karena bansos. Bansos kan tidak semuanya dalam bentuk barang berupa beras. Sebagian besar justru berupa uang, transfer tunai," katanya, saat ditanyai Bisnis, Selasa (13/2/2024). 

Dia menjelaskan bahwa pemberian beras bansos dari pemerintah kepada masyarakat tidak bisa dipastikan menjadi salah penyebab kenaikan harga beras saat ini. 

"Tidak bisa dipastikan. Kalau penerima berbagai bansos dan jaring pengaman sosial itu bersamaan beli beras dalam jumlah besar tentu ada dampaknya. Tapi siapa yang bisa memastikan itu," ucapnya. 

Dia menjelaskan bahwa memang produksi beras domestik saat ini terbatas karena masih paceklik, dan panen kembali mungkin akan terjadi pada April 2024.

"Produksi beras domestik memang lagi terbatas. Saat ini masih paceklik. Kira-kira sampai April. Panen besar kemungkinan baru akhir April atau awal Mei 2024," ujarnya. 

Menurutnya, tentu kenaikan harga beras tersebut memang krusial, karena Maret akan ada Bulan Ramadan dan April ada Idulfitri bagi umat Islam. 

"Penting buat pemerintah untuk memastikan pasokan beras dalam jumlah memadai. Jika tidak, harga potensial naik dan bisa menimbulkan kegaduhan, bahkan berdampak ke soal sosial-politik," ucapnya. 

Kemudian dia menjelaskan, jika merujuk data BPS, produksi Januari-Februari 2024 masih kecil. Produksi 2 bulan itu masih kurang 2,8 juta ton untuk menutupi kebutuhan konsumsi di 2 bulan tersebut.

Dia menyatakan bahwa produksi di Maret lumayan besar, sehingga diperkirakan akan ada suprlus 0,97 juta ton beras, tetapi surplus ini dipastikan akan jadi rebutan banyak pihak. 

Sementara itu, dia mengatakan bahwa panen di April akan bernasib sama, akan jadi rebutan banyak pihak. Terutama untuk mengisi jaring-jaring distribusi yang berbulan-bulan kering kerontang karena paceklik.

Seperti diketahui, mayoritas bahan pangan hari ini terpantau mengalami kenaikan harga, seperti salah satunya beras. Beras juga terpantau mengalami kelangkaan di beberapa daerah di Indonesia. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Erta Darwati
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper