Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Polemik Dinasti Politik dan Kisah Klan Duterte di Pemilu Filipina

Dinasti politik memang kerap mengambil peluang dari celah sistem demokrasi yang menitikberatkan suara mayoritas,
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte./Reuters-Andrew Harnik
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte./Reuters-Andrew Harnik

Bisnis.com, JAKARTA --Polemik tentang dinasti politik tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negeri jiran bahkan hingga negara-negara maju sekalipun, dinasti politik memang kerap mengambil peluang dari celah sistem demokrasi yang menitikberatkan suara mayoritas,

Salah satu cerita menarik terjadi di Filipina kurang lebih setahun lalu. Presiden Rodrigo Duterte lengser setelah 6 tahun berkuasa. Rakyat Filipina kemudian menggelar pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru.

Pemilu menurut konstitusi Filipina agak unik. Presiden hanya dipilih satu kali untuk satu periode pemerintahan. Setelah itu dia tidak diperkenankan maju lagi sebagai presiden. Apalagi ingin nambah jadi 3 periode. Tidak ada ruang untuk itu di konstitusi Filipina. Selain itu, pemilihan presiden alias pilpres dan pemilihan wakil presiden atau pilwapres berlangsung terpisah. 

Aturan itu berbeda dengan di Indonesia. Di sini, seseorang bisa menjadi presiden selama dua periode. Bisa lebih bisa kurang kalau ada perubahan konstitusi. Sementara itu, mekanisme pemilihan presiden dan wakil presiden digelar satu paket. Artinya pilpres di Indonesia ya sudah otomatis memilih wakil presiden sekalian.

Rodrigo Duterte sendiri adalah sosok yang penuh kontroversi. Dia memimpin Filipina dengan agak keras. Pada awal pemerintahnya dia melakukan perburuan terhadap para bandar dan pengedar narkoba.

Orang yang terindikasi hingga yang jelas-jelas terkait jaringan narkoba ditangkap. Sebagian langsung dieksekusi. Mayatnya dibuang begitu saja di pinggir jalan, emperan toko atau di tempat-tempat publik. Konon korbannya banyak. Tidak ada angka pasti la wong pemerintah Filipina tidak mengungkap berapa jumlah orang yang dieksekusi selama operasi horor pemerintahan Duterte tersebut.

Cara Duterte memburu bandar narkoba kemudian mengeksekusinya seolah mengembalikan mesin waktu ke tahun-tahun 1980-an. Waktu itu Indonesia masih dipimpin oleh rezim daripadanya Soeharto alias Orde Baru. Orde Baru pernah melakukan perburuan serupa. 

Orde Baru menggunakan aparat negara untuk memburu maling, kecu atau preman yang meresahkan masyarakat. Mereka yang apes tidak pernah kembali. Kalau tidak mati di dalam karung ya ditembak. Mayatnya kemudian dibuang di tempat-tempat umum. Tapi itu dulu, hampir 40 tahun yang lalu.

Singkat cerita, tahun 2022 adalah tahun terakhir Duterte memimpin negeri jiran tersebut. Awalnya Duterte ingin maju lagi dalam Pilpres 2022. Namun kali ini bukan sebagai capres melainkan cawapres. Duterte sangat serius dengan niatannya tersebut. Dia hanya mau mundur sebagai cawapres jika anaknya, Sara Duterte-Caprio, maju.

Salah satu alasan mengapa Duterte maju sebagai cawapres adalah ingin memastikan bahwa program-progam utamanya yakni memberantas kriminalitas, narkoba, dan pemberontakan berlanjut. Pokoknya narasi yang diusung oleh Duterte adalah keberlanjutan. Makanya, Duterte memberi pilihan kepada publik Filipina pada waktu itu, dia sendiri yang maju sebagai cawapres atau anaknya.

Setelah proses politik yang cukup alot. Anak Duterte, Sara Duterte-Caprio, akhirnya maju dalam kandidasi Pemilu Filipina. Menariknya, calon presidennya adalah Ferdinand 'Bongbong' Marcos Jr.

Ferdinand Marcos Jr adalah bagian dari masa lalu Filipina. Ayahnya adalah mantan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos. Ferdinand Marcos dikenal sebagai seorang diktator. Dia memimpin Filipina dengan tangan besi. Ibu Bongbong, Imelda Romualdez aka Imelda Marcos, juga disorot karena gaya hidupnya.

Kediktatoran dan gaya hidup mewah keluarga Marcos pada akhirnya menimbulkan rasa marah bagi rakyat Filipina. Marcos tumbang pada tahun 1986 oleh sebuah aksi yang dikenal sebagai 'Revolusi EDSA'. Istilah ‘People Power’ sangat populer pada waktu itu. 

Menariknya setelah sekian puluh tahun berlangsung, klan politik Ferdinand Marcos berhasil kembali ke tampuk kekuasaan. Ingatan tentang ‘People Power’ terbukti tidak ampuh membendung kemenangan Ferdinand Marcos Jr.

Dia bersama anak Duterte, menang Pemilu dan berhasil memimpin rakyat Filipina yang puluhan tahun lalu menumbangkan ayahnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Edi Suwiknyo
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper