Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AS Khawatir Ancaman Siber Besar dari Korut Munculkan Serangan Massal, Apa Itu?

Amerika Serikat (AS) waspadai serangan siber yang dilakukan oleh Korea Utara (Korut) dan Rusia dilakukan untuk pendanaan pembelian senjata pemusnah massal.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong -un menghadiri rapat pleno ke-7 Komite Pusat ke-8 Partai Buruh Korea (WPK) di Pyongyang, Korea Utara, 27 Februari 2023 dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA)./Reuters
Pemimpin Korea Utara Kim Jong -un menghadiri rapat pleno ke-7 Komite Pusat ke-8 Partai Buruh Korea (WPK) di Pyongyang, Korea Utara, 27 Februari 2023 dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA)./Reuters

Bisnis.com, SOLO - Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kejahatan siber yang dilakukan pelaku dari Korea Utara (Korut) dan Rusia.

Brian Nelson, wakil menteri keuangan untuk urusan terorisme dan intelijen keuangan, menyoroti upaya AS yang sedang berlangsung untuk memberantas aktivitas siber ilegal oleh aktor Korut yang membantu mendanai program pengembangan senjata ilegal negara itu.

"Jelas, kedua negara pelaku yang paling saya khawatirkan adalah DPRK dan Rusia. Saya pikir anda bisa melihat betapa mereka mengandalkan aset virtual untuk mendukung program senjata pemusnah massal mereka," kata Nelson dalam seminar virtual yang diselenggarakan oleh Center for a New American Security, Rabu (19/7/2023).

Hal tersebut menjadi masalah keamanan nasional yang signifikan dan serius, yang saat ini tengah ditangani oleh pemerintah AS.

"Mengingat hal itu, tentu saja keterlibatan diplomatik dengan DPRK cukup menantang. Pemutusan aliran dana semacam ini, menurut saya, adalah penting," lanjutnya.

Dipimpin oleh Nelson, Biro Terorisme dan Intelijen Keuangan Departemen Keuangan AS telah memperlakukan sanksi terhadap belasan entitas dan individu Korut tahun ini.

"AS dan mitra kami tetap berkomitmen untuk memerangi aktivitas pengumpulan dana ilegal DPRK dan upaya pencurian uang dari lembaga keuangan, pertukaran mata uang virtual, perusahaan, dan individu swasta di seluruh dunia," kata Nelson pada Mei.

Pernyataan itu untuk menanggapi sanksi yang diberlakukan Depkeu terhadap empat entitas Korut dan satu warga negara Korut atas aktivitas siber terlarang yang mendukung program senjata Korut.

Sebelumnya, ancaman siber dari Korut membuat ketar-ketir negara lain. Pasalnya Badan spionase Korea Selatan (Korsel) mengatakan bahwa Korut mencuri mata uang kripto senilai total 700 juta dolar AS (sekitar Rp10,48 triliun) pada 2022.

Dana tersebut dinilai cukup untuk mendanai peluncuran sekitar 30 rudal balistik antarbenua.

Nelson menggarisbawahi pentingnya upaya sektor swasta untuk memutus aktivitas siber ilegal oleh aktor seperti Korut.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper