Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jokowi Ingin Negosiasi Indonesia-EU CEPA Rampung Paling Lambat Tahun Depan

Kepada Presiden Komisi Uni Eropa (UE), Jokowi menyampaikan keinginannya agar negosiasi Indonesia-EU CEPA rampung paling lambat tahun depan.
Jokowi Ingin Negosiasi Indonesia-EU CEPA Rampung Paling Lambat Tahun Depan. Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang Heri Akhmadi menyambut ketibaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Bandara Hiroshima, Jepang pada Jumat (19/5/2023)./Istimewa
Jokowi Ingin Negosiasi Indonesia-EU CEPA Rampung Paling Lambat Tahun Depan. Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Jepang Heri Akhmadi menyambut ketibaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Bandara Hiroshima, Jepang pada Jumat (19/5/2023)./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan harapannya agar negosiasi terkait Indonesia-European Union (EU) Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dapat segera diselesaikan atau rampung pada tahun depan.

Hal ini disampaikannya usai menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Komisi Uni Eropa (UE) Ursula von der Leyen di Hotel Grand Prince, Hiroshima, Jepang, Minggu (21/5/2023).

“Terkait Indonesia-UE CEPA, Indonesia berharap negosiasi selesai paling lambat tahun depan," katanya dikutip melalui Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (21/5/2023).

Kedua pemimpin juga memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya negosiasi Indonesia-UE CEPA untuk segera diselesaikan.

Lebih lanjut, terkait regulasi deforestasi UE, Presiden Ke-7 RI itu mengatakan bahwa sejak awal pembahasan Indonesia telah menyampaikan keberatan atas regulasi tersebut. Menurutnya, regulasi tersebut dapat menghambat perdagangan dan merugikan petani kecil di Indonesia.

“Proses benchmarking dengan cut of date mulai 2020 harus betul-betul terbuka dan obyektif.  Sebagai informasi, laju deforestasi Indonesia 2019-2020 telah turun 75 persen menjadi 115 ribu hektare. Ini laju terendah sejak 1990 dan terus alami penurunan,” ucapnya.

Terakhir, Presiden asal Surakarta itu menyampaikan bahwa Indonesia dan Malaysia akan melakukan misi bersama ke Brussels untuk menyampaikan kembali keberatan terhadap berbagai regulasi UE yang merugikan dan menyampaikan data-data konkret yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi UE dan dapat dijadikan bahan pembuatan kebijakan yang objektif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Akbar Evandio
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper