Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PDIP Minta Mahasiswa Kritisi Pengesahan Perppu Cipta Kerja Tak Lewat Umpatan

Anggota DPR dari Fraksi PDIPmeminta mahasiswa kritisi DPR tanpa umpatan yang kurang terdidik, setelah ramai protes pengesahan Perppu Cipta Kerja menjadi UU
PDIP Minta Mahasiswa Kritisi Pengesahan Perppu Cipta Kerja Tak Lewat Umpatan. Pengunjuk rasa membentangkan spanduk saat berunjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (14/3/2023). Unjuk rasa yang diikuti serikat buruh, mahasiswa, dan petani itu menuntut pemerintah untuk segera mencabut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.
PDIP Minta Mahasiswa Kritisi Pengesahan Perppu Cipta Kerja Tak Lewat Umpatan. Pengunjuk rasa membentangkan spanduk saat berunjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (14/3/2023). Unjuk rasa yang diikuti serikat buruh, mahasiswa, dan petani itu menuntut pemerintah untuk segera mencabut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.

Bisnis.com, JAKARTA - Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno meminta mahasiswa menyampaikan kritik kepada DPR tanpa umpatan yang kurang terdidik, setelah ramai protes soal pengesahan Perppu Cipta Kerja jadi undang-undang.

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) mengunggah video di akun media sosial mereka yang menunjukkan Ketua DPR Puan Maharani dengan badan tikus. BEM UI menyebut DPR sebagai Dewan Perampok Rakyat.

"Rasanya kurang patut apabila mahasiswa menyampaikan umpatan-umpatan yang kurang terdidik, asal bunyi, merendahkan akal budi," ujar Hendrawan saat dikonfirmasi, Kamis (23/3/2023).

Dia berpendapat, lebih baik mahasiswa mengajak anggota DPR atau DPRD berdiskusi dan berdebat secara terbuka. Dengan begitu, lanjutnya, mahasiswa dapat mengedepankan etika akademis.

"Itulah esensi peran dan kontribusi insan kampus dalam membangun peradaban bangsa, bukan melakukan umpatan-umpatan yang dangkal dan spekulatif," jelas anggota Komisi XI DPR itu.

Hendrawan merasa mahasiswa sekarang hanya sekadar sekadar ingin tampil beda dan menarik perhatian. Oleh sebab itu, dia merasa mahasiswa sering asal bunyi.

"Dalam bahasa Jawa ada istilah waton suloyo," ucapnya.

Lebih lanjut, Hendrawan mengklaim sama ini DPR juga selama menampung setiap masukan dari kampus. Meski begitu, masukannya harus lengkap dan mendalam.

"Kunker-kunker Alat Kelengkapan Dewan [AKD], termasuk Badan Legislasi, sering ke kampus-kampus. Kami selalu berharap kampus memberi masukan secara lengkap dan mendalam," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper