Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kyiv Laporkan 15.000 Orang Hilang Sejak Invasi Rusia ke Ukraina

Kyiv melaporkan sekitar 15.000 warga negaranya hilang sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina.
Dua orang tewas ketika sebuah roket menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di pusat Kota Kryvih Rih, Jumat (15/12/2022). Pasukan Rusia meluncurkan serangan mematikan di seluruh wilayah Ukraina./Istimewa
Dua orang tewas ketika sebuah roket menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di pusat Kota Kryvih Rih, Jumat (15/12/2022). Pasukan Rusia meluncurkan serangan mematikan di seluruh wilayah Ukraina./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Ombudsman dan Komisaris Kepresidenan untuk perlindungan hak-hak para pembela Ukraina, Alena Verbitskaya, mengungkap pada Jumat (30/12/2022) bahwa 15.000 orang dilaporkan hilang di Ukraina sejak akhir Februari 2022.

"Menurut data terbaru, Rusia telah mengonfirmasi 3.392 tahanan Ukraina, tetapi sebanyak 15.000 orang, termasuk banyak warga sipil, telah dilaporkan hilang di Ukraina. Kami tidak tahu apa-apa tentang mereka," kata Alena dilansir dari TASS, Minggu (1/1/2023).

Pada Senin (26/12/2022) Kepala Dewan Kepresidenan Rusia untuk pengembangan masyarakat sipil dan Hak Asasi Manusia (HAM), Valery Fadeyev, mengatakan bahwa Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengunjungi tawanan perang Ukraina di Rusia. 

Fadeyev mengakui ada beberapa masalah birokrasi, tetapi berjanji akan membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menurutnya, ICRC mengeluarkan laporan positif tentang kondisi tahanan Ukraina yang ditahan di fasilitas Rusia.

Pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia, Vladimir Putin, melancarkan operasi militer khusus di Ukraina sebagai tanggapan atas permintaan bantuan dari para Kepala Republik Donbass. 

Dia menekankan bahwa Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina, tetapi bertujuan untuk mendemiliterisasi dan denazifikasi negara tersebut. 

Setelah itu, Barat memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap Rusia dan meningkatkan pasokan senjata ke Kyiv senilai puluhan miliar dolar.

Adapun, pertempuran Rusia dengan Ukraina telah berjalan selama hampir 10 bulan dan belum menunjukkan titik terang untuk perdamaian.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengatakan pada Sabtu (31/12/2022) bahwa negaranya tidak akan memaafkan Rusia setelah melakukan rentetan serangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Erta Darwati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper