Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

PVMBG: Material Pijar Semeru Tercatat Berkurang Mulai 7 Desember

Setelah ditetapkan berstatus awas atau level IV pada Minggu (4/12/2022) lalu, material pijar Gunung Semeru tercatat mulai berkurang.
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 07 Desember 2022  |  17:49 WIB
PVMBG: Material Pijar Semeru Tercatat Berkurang Mulai 7 Desember
Gunung Semeru mengeluarkan lava pijar yang tampak dari Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (7/1/2022). ANTARA FOTO - Seno
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Badan Geologi (PVMBG) mengungkapkan sebelum Gunung Semeru ditetapkan berstatus awas atau level IV terhitung sejak Minggu (4/12/2022) pukul 12.00 WIB, suplai magma gunung ini sudah meningkat beberapa bulan terakhir. 

“Dimulai dari Januari, dan dari sini kita melihat ada kecenderungan suplai magma yang bertambah dimulai pada awal Oktober, Itu ada suplai [magma] yang cukup signifikan, tetapi kemudian aktivitas di permukaan seperti erupsi hembusan dan aktivitas awan panas guguran di konstan” ungkap Koordinator Kelompok Gunung Api, Oktory Prambada dalam konferensi pers daring pada Rabu (7/12/2022).

Oktory menyebut, hal ini berdasarkan catatan kegempaan PVMBG sejak satu tahun terakhir. Peningkatan suplai magma ini kemudian disimpulkan oleh PVMBG, bahwa gunung yang terletak di dua Kabupaten ini memiliki rata-rata erupsi yang tinggi. 

“Jadi disini bisa kami simpulkan bahwa semeru ini memiliki eruption rate yang cukup tinggi dengan suplai (magma) yang terjadi dalam waktu singkat, tetapi aktivitas-aktivitas berupa output magmanya itu konstan, meskipun suplai magmanya naik ataupun turun,” tambah Oktory.

Hal ini kemudian yang membuat PVMBG mengambil langkah segera menetapkan Semeru berstatus awas atau level 4, kurang dari sepuluh jam pasca erupsi dengan tinggi letusan lebih dari 1.500 di atas puncak.

“Ini adalah mengapa kita pada saat ini menetapkan semeru masih pada level 4 atau awas,” kata Oktory.

Namun, Oktory juga mengungkap material pijar di sekitar Gunung Semeru tercatat sudah berkurang, terhitung sejak hari ini, Rabu (7/12/2022) dibuktikan anomali termal yang berkurang.

“Kondisi anomali termal yang pada 4 Desember terjadi anomali termal sebesar 15 Mega Watt kemudian tanggal 7 (Desember) ke 3 MW. Ini mengindikasikan adanya pengurangan material pijar di sekitar permukaan kawah yang diakibatkan oleh erupsi setiap hari,” tambah Oktory.

Selain itu, Oktory mengungkap, Semeru telah memberi petunjuk sebelum erupsi pada tanggal 4 Desember kemarin, dengan banyaknya kadar sulfur dioksida (SO2) pada tanggal 2 Desember, tepat dua hari sebelum erupsi terjadi.

“Ada fakta yang menarik ketika kadar so2 di udara ternyata itu terjadi lebih banyak di tanggal 2 Desember sebesar 1,78 Dobson Unit. Itulah kami pada tanggal 2 (Desember) dan 3 (Desember) itu kami melakukan press release dua hari berturut turut karena ini anomalinya muncul ketika tanggal 2, jadi ini sebuah petunjuk yang bagus buat kami semua,” jelas Oktory.

Terlebih menurut Oktory kegempaan, suplai magma dan data deformasi Gunung Semeru berkesinambungan, membuat pihaknya berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan masyarakat sekitar lebih intensif selama beberapa bulan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gunung Semeru erupsi gunung berapi erupsi merapi
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top