Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

AS Pertimbangkan untuk Memasok Bom Presisi Kecil ke Ukraina

Pentagon sedang mempertimbangkan untuk memasok Ukraina, bom presisi kecil yang dapat dipasangkan pada roket.
Ileny Rizky
Ileny Rizky - Bisnis.com 29 November 2022  |  05:57 WIB
AS Pertimbangkan untuk Memasok Bom Presisi Kecil ke Ukraina
Beberapa kendaraan terbakar setelah Rusia meluncurkan rudal ke Ibu Kota Kyiv, Ukraina pada Senin (10/10/2022). Serangan ini meningkatkan esklasi perang Rusia vs Ukraina - The Moscow Times
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan proposal Boeing untuk memasok bom presisi kecil ke Ukraina.

Dilansir dari The Guardian pada Selasa (29/11/2022), Kantor utama angkatan bersenjata AS (Pentagon) sedang mempertimbangkan proposal Boeing untuk memasok Ukraina, bom presisi kecil yang dapat dipasangkan pada roket.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memungkinkan Kyiv dapat menyerang jauh di belakang garis Rusia.

Inventaris militer AS dan sekutu menyusut, kemudian Ukraina sedang menghadapi kondisi yang mengharuskan untuk memerlukan lebih banyak alat dan senjata yang lebih canggih demi dapat bertahan dalam perang  yang berlarut-larut ini.

Adapun sistem yang diusulkan Boeing, dijuluki dengan Ground-Launched Small Diameter Bomb (GLSDB). Ini akan menjadi salah satu dari beberapa rencana yang dilakukan, untuk memasukkan amunisi baru ke dalam produksi untuk Ukraina dan sekutu Eropa timur Amerika.

GLSDB dapat dikirimkan paling cepat pada musim semi 2023 mendatang. Sistem ini rencananya akan menggabungkan bom diameter kecil (SDB) GBU-39 dengan motor roket M26, yang keduanya terdapat di persediaan AS.

Meskipun beberapa unit GLSDB telah dibuat, namun dikatakan masih terdapat banyaknya hambatan logistik untuk pengadaan formal rencana ini.

Rencana Boeing untuk membutuhkan pengabaian penemuan harga, membebaskan kontraktor dari tinjauan mendalam yang memastikan Pentagon mendapatkan kesepakatan terbaik. 

Meskipun begitu, dikatakan bahwa pengaturan mengenai apa pun itu akan membutuhkan setidaknya enam pemasok, untuk dapat mempercepat pengiriman suku cadang dan layanan mereka, demi memproduksi senjata dengan waktu yang cepat.

Meskipun AS telah menolak permintaan untuk rudal Atacms dengan jangkauan 185 mil (297 km), jangkauan GLSDB 94 mil (150 km) ini diharapkan akan memungkinkan Ukraina dalam mencapai target militer berharga yang berada di luar jangkauan. 

GLSDB 94 mil ini diharapkan dapat membantu Ukraina untuk terus menekan serangan balik Rusia, dengan mengganggu area belakang pasukan Rusia.

Sebagai informasi, GLSDB digarap bersama oleh Saab AB dan Boeing Co. Kemudian sistem ini telah dikembangkan sejak tahun 2019, jauh sebelum invasi.

Pada bulan Oktober, kepala eksekutif SAAB Micael Johansson mengatakan harapannya terkait GLSDB. "Kami segera mengharapkan kontrak untuk itu," kata Johansson.

Menurut dokumen yang diterimanya, proposal Boeing untuk AS Eropa itu memiliki sayap lipat kecil yang memungkinkannya dapat meluncur lebih dari 100 km jika dijatuhkan dari pesawat terbang. Selain itu, bom presisi keci itu ditargetkan memiliki diameter sekecil 3 kaki.

Di samping itu, Rusia dan AS dikatakan memiliki cara tersendiri untuk mengelola risiko nuklir di tingkat badan intelijen.

Kuasa Hukum Kedutaan Besar AS di Moskow Elizabeth Rood mengatakan bahwa untuk saat ini, tidak ada jadwal diskusi pertemuan yang akan dilakukan.

"Amerika Serikat memiliki saluran untuk mengelola risiko dengan federasi Rusia, khususnya risiko nuklir. Itulah tujuan pertemuan direktur CIA Burns dengan mitranya dari Rusia," sebut Rood.


"Direktur Burns tidak merundingkan apapun dan dia tidak membahas penyelesaian konflik di Ukraina," sambungnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Perang Rusia Ukraina amerika serikat Rusia Ukraina
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top