Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPOM Ungkap Tiga Celah dalam Pengawas Obat di Indonesia

Produk sirop yang diindikasi menyebabkan kasus gagal ginjal akut pada anak tidak memenuhi standar farmakope.
Surya Dua Artha Simanjuntak
Surya Dua Artha Simanjuntak - Bisnis.com 24 November 2022  |  20:24 WIB
BPOM Ungkap Tiga Celah dalam Pengawas Obat di Indonesia
Kantor BPOM di Percetakan Negara, Jakarta Pusat. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Plt. Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM Togi Junice Hutadjulu mengungkapkan selama ini setidaknya ada tiga celah dalam pengawasan obat di Indonesia.

Togi menjelaskan, kasus gagal ginjal akut pada anak yang dikaitkan dengan pencemaran etilen glikol (EG)/dietilen glikol (DEG).

Pertama, ujarnya, selama ini persetujuan bahan baku impor tidak melalui BPOM melainkan hanya lewat Bea Cukai. Akibatnya, celah ini dapat dimanfaat oleh industri farmasi yang tak bertanggung jawab.

“Selama ini hanya untuk bahan aktif harus melalui SKI, surat keterangan impor, supaya disetujui Bea Cukai. Nah ini sayangnya bukan melalui kami. Akhirnya setengah-setengah dan itu effort-nya harus lebih besar,” jelas Togi dalam diskusi virtual Perkembangan Penelitian Obat Mengandung EG dan DED pada Kasus Gagal Ginjal Akut, Kamis (24/11/2022).

Kedua, dia mengatakan di Indonesia sudah memiliki farmakope yang berisi standarisasi, panduan, dan pengujian sediaan obat. Dalam UU Kesehatan, lanjutnya, mutu suatu produk farmasi memang harus memenuhi standar farmakope.

Meski begitu, dia mengatakan produk-produk sirop yang diindikasi menyebabkan kasus gagal ginjal akut pada anak tak memenuhi standar farmakope. “Sayangnya produk-produk sirop ini belum ada standarnya,” jelasnya.

Hal ini karena ketika BPOM sudah memberikan izin edar kepada suatu obat, maka industri farmasi yang bertanggung jawab memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Ketiga, Togi menjelaskan BPOM sudah punya semacam sistem laporan yang disebut Pusat Farmakope. Meski begitu, saat kasus gagal ginjal akut pada anak dideteksi, tak ada laporan yang masuk ke Pusat Farmakope.

Oleh sebab itu, BPOM akan menggiatkan kembali ke masyarakat terkait sistem Pusat Farmakope ini.

“Kita ingin merevitalisasi Pusat Farmakope. Apa pun kejadian efek samping obat, walaupun tidak diketahui ataupun kejadian tidak diinginkan, itu dilaporkan kepada kami, sehingga memang kasus ini tidak kemudian meluas, jumlahnya tidak banyak. Jadi ada semacam mitigasi,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BPOM gagal ginjal ginjal penyakit ginjal
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top