Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

6 Bulan Perang Rusia vs Ukraina: Rusia Cuan Rp2.000 Triliun, Dunia Merana

Simak rangkuman peristiwa dalam 6 bulan perang Rusia vs Ukraina. Siapa sangka Rusia justru cuan Rp2.000 triliun.
Wibi Pangestu Pratama, Feni Freycinetia
Wibi Pangestu Pratama, Feni Freycinetia - Bisnis.com 23 Agustus 2022  |  08:40 WIB
6 Bulan Perang Rusia vs Ukraina: Rusia Cuan Rp2.000 Triliun, Dunia Merana
Seorang anak perempuan membawa papan bergambar saat unjuk rasa dekat Museum Seni Modern dan Kedutaan Rusia, setelah Rusia meluncurkan operasi militer besar atas Ukraina, di Ljublana, Slovenia, Jumat (25/2/2022). - Antara/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perang Rusia vs Ukraina telah berlangsung selama 6 bulan sejak Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan militernya untuk menginvasi Ukraina pada 23 Februari 2022.

Sejak serangan itu, situasi geopolitik dunia berubah total. Dunia yang sedang berupaya memulihkan kondisi akibat pandemi Covid-19, kini harus kembali menghadapi krisis multi sektoral akibat perang Rusia vs Ukraina.

Perang antara Rusia dan Ukraina tidak hanya berdampak pada kawasan Eropa, tetapi hampir seluruh dunia. Selain kerugian akibat korban jiwa dan rusaknya sarana infrastruktur, roda perekonomian global juga mengalami perlambatan.

Bahkan, lembaga-lembaga dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (World Bank), hingga Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) harus memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022 dan 2023.

Negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa gencar melayangkan sanksi kepada Rusia atas tindakan mereka terhadap Ukraina. Namun, sanksi tersebut membawa dampak besar bagi dunia. Pasalnya, Rusia merupakan salah satu negara penghasil gas alam dan minyak mintah terbesar di dunia sehingga menyebabkan krisis energi di wilayah Eropa.

Bukan itu saja, krisis pangan akibat perang yang berkepanjangan juga mengintai dunia. Hal itu terjadi lantaran Ukraina merupakan negara penghasil gandum dan biji-bijian yang memiliki mitra di berbagai negara.

Lonjakan harga minyak dan bahan pangan kian tak terelakkan. Di saat dunia tertatih-tatih bangkit dari pandemi Covid-19, kini negara-negara juga harus berjibaku melawan krisis akibat stagflasi.


Cuan Jumbo Rusia

Ketika banyak negara mengalami krisis, situasi 180 derajat justru terjadi pada ekonomi Rusia. Negeri Beruang Merah tersebut seperti mendapat "durian runtuh" akibat melonjaknya harga energi dan sanksi yang diberikan oleh AS dan negara sekutu.

Dilansir dari artikel Bloomberg yang tayang pada 11 Juli 2022, neraca transaksi berjalan Rusia secara kumulatif pada semester I/2022 tembus US$138,5 miliar atau setara dengan Rp2.064 trilun (dengan kurs Rp14.939 per dolar AS).

"Selama semester I/2022, surplus mencapai US$138,5 miliar [atau sekitar Rp2.000 triliun]," kata bank sentral Rusia dikutip dari Bloomberg, Senin (22/8/2022).

Bloomberg juga mencatat surplus neraca transaksi berjalan Rusia mencatat rekor US$70 miliar atau setara dengan Rp1,04 triliun pada kuartal II/2022.

Lantas, apa penyebab Rusia menorehkan surplus atau cuan jumbo setelah menginvasi Ukraina?

Ya, surplus neraca transkasi berjalan tersebut terjadi seiring lonjakan pendapatan dari ekspor energi dan komoditas asal Rusia. Seperti diketahui, Rusia merupakan salah satu negara penghasil gas alam dan minyak bumi yang terbesar di dunia. Rusia juga memiliki ladang gandum yang sangat luas.

Ekspor energi dan komoditas unggulan asal Negeri Beruang Merah justru membantu mengimbangi dampak sanksi dari Amerika Serikat dan Eropa yang dikenakan atas invasi Presiden Vladimir Putin ke Ukraina.

Bloomberg menyebutkan surplus transaksi berjalan Rusia, khususnya dari perdagangan barang dan jasa, pada kuartal II/2022 menjadi yang terlebar sejak 1994, menurut data yang dirilis oleh bank sentral Rusia.

Penutupan keran impor yang didorong oleh sanksi berkontribusi pada surplus neraca transaksi berjalan Rusia selama awal 2022. Hal itu telah muncul sebagai jalur kehidupan ekonomi utama bagi Kremlin ketika AS dan sekutunya mencoba mengisolasi Rusia dari perdagangan global.

"Realisasi ekspor pada kuartal II/2022 tercatat US$153,1 miliar atau turun sedikit dari pada kuartal pertama. Impor juga turun menjadi US$$72,3 miliar dari sebelumnya US$88,7 miliar," tulis bank sentral Rusia.

Sejak meletusnya perang Rusia vs Ukraina, Rusia telah berhenti merilis data rinci tentang impor dan ekspor. Namun, arus perdagangan Rusia dapat diperkirakan dari angka yang dirilis oleh negara-negara mitra.

Pada Mei 2022, ada tanda-tanda impor telah stabil dengan lima negara yang menyumbang sekitar setengah dari perdagangan Rusia seiring ekonomi Negeri Beruang Merah tersebut beradaptasi dan bisnis mulai menemukan rute baru untuk pengiriman komoditas.

"Surplus transaksi berjalan yang melonjak, dikombinasikan dengan kontrol modal yang ketat yang membatasi permintaan valuta asing, telah membantu menjadikan rubel mata uang berkinerja terbaik tahun ini di antara rekan-rekan pasar berkembang," tulis Bloomberg.


Rusia Tawarkan Minyak Murah ke RI 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menilai bahwa Rusia mendulang keuntungan yang sangat besar akibat meletusnya perang Rusia vs Ukraina.

Hal tersebut disampaikan oleh Sandiaga Uno dalam acara CEO Mastermind 7. Cuplikan paparannya mengenai perang dan minyak Rusia diunggah dalam akun instagram miliknya @sandiuno pada Sabtu (20/8/2022).

"Kenapa perang Rusia dan Ukraina ini akan cukup lama? Because it's profitable. Rusia setiap harinya, dengan harga minyak yang naik dan dia menjual sekarang di bawah harga pasar, untungnya US$6 miliar dolar per hari," ujar Sandi, dikutip dari unggahan Instagram miliknya, pada Senin (22/8/2022).

Dia mengatakan Rusia memang mengeluarkan biaya untuk perang atau cost of war melawan Ukraina sebesar US$1 miliar setiap harinya. Namun, Sandi menilai Rusia tetap untung besar karena mendapat keuntungan dari hasil penjualan minyak. Menurutnya, Rusia profit US$5 miliar per hari.

Terkait situasi tersebut, Sandi menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebenarnya tertarik untuk membeli minyak mentah dari Rusia, yang berada di bawah harga pasar internasional.

Sandi menyebut bahwa Rusia telah menawarkan minyak kepada Indonesia dengan harga murah. Tak tanggung-tanggung, menurut Sandi, tawarannya 30 persen lebih murah dari harga internasional sehingga menjadi menarik.

Dia bertanya kepada audiens, apakah jika mereka mendapatakan tawaran itu akan mengambil minyak dari Rusia, dan sebagian besar menjawab iya. Sandi lantas mengungkap bahwa Jokowi pun memiliki pikiran yang sama, yakni membeli minyak dari Rusia. "Kalau buat teman-teman CEO Mastermind ambil gak? Ambil gak? Pak Jokowi pikir yang sama, ambil," ujar Sandi, dikutip dari unggahannya pada Senin (22/8/2022).

Meskipun begitu, menurutnya, pemerintah masih mempertimbangkan opsi membeli minyak dari Rusia. Pasalnya, terdapat risiko embargo dari Amerika Serikat jika Indonesia membeli minyak dari Rusia, yang menunjukkan gestur keberpihakan terhadap salah satu poros.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) dan Negara G7 mengajak Indonesia untuk menetapkan batas harga atau price cap terhadap minyak Rusia. Hal tersebut disampaikan oleh Pejabat Pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam pertemuan yang dihadiri Bisnis, Selasa (9/8/2022) di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta.

Dia menjelaskan bahwa kedatangan pihak pemerintah AS ke Jakarta untuk mengajak pemerintah Indonesia mengambil langkah atas kenaikan harga minyak global akibat Rusia. Pejabat itu menyebut bahwa negara-negara G7 berkomitmen untuk tidak mengimpor minyak dari Rusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Perang Rusia Ukraina vladimir putin krisis global ekonomi global
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top