Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tabayyun Cak Nun dan 3 Tahun Penantian Megawati di Kandang Banteng

Cak Nun memenuhi undangan Megawati setelah 3 tahun tidak direspons. Namun, ada pandangan lain mengenai kedatangan cendekiawan muslim itu di Kandang Banteng.
Hendri T. Asworo
Hendri T. Asworo - Bisnis.com 17 April 2022  |  10:58 WIB
Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun memberikan ceramah di hadapan Jamaah Maiyah. - Twitter
Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun memberikan ceramah di hadapan Jamaah Maiyah. - Twitter

Bisnis.com, JAKARTA - Mohammad Ainun Nadjib atau biasa disapa Cak Nun tiba-tiba menyambangi markas PDI Perjuangan di Lenteng Agung Jakarta Pusat, Minggu (10/4/2022).  Bertemu Presiden ke-5 Megawati Soekarno Putri sekaligus buka bersama dan ceramah di hadapan kader partai berlambang kepala banteng tersebut. 

Langkah yang tidak biasa diambil oleh budayawan nyentrik tersebut. Pasca kejatuhan Orde Baru dengan ditandai mundurnya Presiden ke-2 Soeharto pada 1998, dirinya berikrar bahwa tidak akan merapat di acara partai atau muncul di layar kaca.

Hal tersebut beberapa kali diucapkan saat mengisi acara Sinau Bareng Cak Nun bersama Jamaah Maiyah dan grup musik Kiai Kanjeng. Gunjingan publik soal ‘kedekatan’ dengan  keluarga Cendana pasca lengsernya Soeharto membuat dirinya kesal sehingga memilih menghindar dari hingar-bingar politik.

Dalam tulisannya di caknun.com berjudul Imam Cendana dan Protes Iblis, disampaikan bahwa dirinya kecewa tak lama setelah Soeharto menyatakan turun tahta pada 21 Mei 1998 pukul 10.00 WIB. Waktu itu dibentuk Komite Reformasi yang beranggotakan 45 orang dengan diketuai cendekiawan muslim almarhum Nurcholish Madjid atau biasa disapa Cak Nur.

Salah satu tokoh menuding komite tersebut sebagai kepanjangan tangan Soeharto karena dibentuk bersama mantan penguasa Orde Baru selama 32 tahun. Cak Nun pun memutuskan tidak bergabung dalam tim tersebut dan tidak menjadi apa-apa pasca kejatuhan Soeharto.

Setelah reformasi, Cak Nun lebih banyak mengembara di pentas-pentas pengajian. Dari sejumlah video yang ditayangkan di akun Youtube Caknun.com, nyaris tidak ada penampilan pria asal Bareng, Jombang, itu bersafari ke partai politik. Kebanyakan, Cak Nun dan Kiai Kanjeng tampil atas undangan pemerintah daerah kabupaten/kota, kecamatan dan lainnya.

Kegalauan muncul saat memutuskan untuk bertandang ke Kandang Banteng. Hal tersebut diungkapkan Cak Nun saat berbicara di hadapan Jamaah Maiyah dan kader PDI-P. 

“Saya bingung mau kesini ini, di medsos saja pada marah-marah. 'Wah Cak Nun menjilat Megawati.' Aku enggak menjilat. Yang menggundang saya ini Mbak Mega, berarti Mbak Mega yang menjilat saya. Ini tidak ada urusan jilat menjilat. Ini urusan cinta tanah air, cinta bangsa, dan cinta rakyat,” terangnya.

Lebih jauh dia menceritakan bahwa Megawati telah mengundangnya untuk ke markas PDI-P tiga tahun lalu. Namun, Cak Nun tidak mengiyakan selama 3 tahun tersebut. Bahkan, untuk memutuskan datang ke markas PDI-P dirinya harus melakukan salat Istikharah.

“Saya melalui perjuangan batin yang luar biasa, dan akhirnya saya Istikharah. Saya wiridan. Serius. Saya kemudian bermimpi, kira-kira seminggu lalu bahwa saya pergi keliling dunia dan kembali ke Indonesia, saya ketemu cakrawala di senja hari, terhampar kain yang sangat panjang tulisannya PDI Pengayoman. Lalu saya memutuskan ke sini.”

Tabayun Cak Nun

Apakah memang keputusan Cak Nun ke ‘Kandang Banteng’ semata karena mimpi tersebut? Ahmad Khoirul Umam, Pengamat Politik Univesitas Paramadina, memiliki penilaian berbeda. 

Menurutnya, kehadiran Cak Nun di markas PDIP tak lain sebagai respons atas viralnya konten di media sosial yang memuat komentarnya tentang Megawati terkait dengan antrean ibu-ibu yang membeli minyak goreng. Konten tersebut dinilai menjadi blunder meski berbeda konteks dengan peristiwa saat ini. 

“Jadi tampaknya Cak Nun diundang untuk tabayyun sekaligus menetralisir efek destruktif yang dimunculkan oleh konten medsos tersebut,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (14/4/2022).

Seperti diketahui, sempat viral video lawas Cak Nun berupa kritikan terhadap Megawati  sebagai tanggapan atas pernyataan Ketum PDIP yang menyoroti emak-emak mengantre minyak goreng di mana-mana.

"Saya tuh sampai mikir, jadi setiap hari ibu-ibu apakah hanya menggoreng sampai begitu rebutannya? Apa tidak ada cara untuk merebus lalu mengukus atau seperti rujak," kata Megawati beberapa waktu lalu, dikutip dari kanal YouTube.

Sesaat kemudian viral video potongan ceramah Cak Nun. Video tersebu di sandingkan warganet dengan pernyataan Megawati soal minyak goreng.

”Jangan disalahkan karena Mbak Mega itu tidak ngerti. Dia tidak punya ilmu untuk memahami itu. Dia enggak sekolah, dia tidak pernah mengalami masyarakat biasa seperti Anda, dia tidak pernah bergaul di kampung-kampung, dia tidak pernah utang, enggak pernah ngerti sedihnya enggak bisa bayar sekolah, sejak kecil dia itu anak presiden di Istana. Jadi gak ana critanya anak presiden utang, gak ana [Jadi tidak ada cerita anak presiden utang, gak ada]. Jadi Anda jangan tuntut Mbak Mega ngerti itu, wong enggak ngerti kok. Aja diuring-uring [jangan dimarahi].”

Padahal, sejatinya video tersebut merupakan tanggapan Cak Nun atas sikap Megawati yang memanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu sebagai petugas partai. Penelusuran Solopos.com, Sabtu (19/3/2022), video utuh ceramah tersebut beredar sekitar tiga tahun lalu. Megawati sendiri membuat klarifikasi atas pernyataan mengoreng tidak harus menggunakan minyak goreng.

Khoirul menambahkan, Cak Nun adalah cendekiawan dan budayawan muslim yang punya independensi tinggi, sehingga tidak bisa diintervensi meskipun ceramah di Kandang Banteng.

"Jadi, munculnya statemen-statemen Cak Nun yang mengkritik presiden Jokowi itu adalah bagian dari kebebasannya berpikir dan Kemerdekaannya sebagai penyambung lidah umat."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

megawati pdip Cak Nun
Editor : Hendri T. Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top