Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perbedaan Cara Baca Niat Puasa Ramadhan, Apakah Boleh?

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) mengumumkan hasil sidang Isbat yang digelar pada Jumat (1/4/2022), memutuskan 1 Ramadan 1443 H jatuh pada Minggu (3/4/2022).
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 02 April 2022  |  12:45 WIB
Perbedaan Cara Baca Niat Puasa Ramadhan, Apakah Boleh?
Ilustrasi umat muslim menjalankan ibadah puasa - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) mengumumkan hasil sidang isbat yang digelar pada Jumat (1/4/2022), memutuskan 1 Ramadan 1443 H jatuh pada Minggu  (3/4/2022).

Hal tersebut berarti, umat Islam sudah dapat menjalankan ibadah puasa pada esok hari, adapun salah satu yang membedakan ibadah satu dengan lainnya adalah niat.

Penyebabnya, hal ini menjadi sesuatu yang penting karena termasuk dalam rukun setiap ibadah. Dalam menjalankan puasa Ramadan, umat Islam dimulai dengan membaca niat pada malam hari, sejak terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar.

Dikutip melalui laman resmi NU,Sabtu (2/4/2022), di lapangan masih terdapat perbedaan dalam pembacaan niat berpuasa sehingga bagaimana hukumnya dalam islam, apakah diperbolehkan?

Ketua Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PC LDNU) Jombang Aang Fatihul Islam mengatakan, kadang di masyarakat masih terjadi perbedaan pendapat antara mereka yang sudah membiasakan diri talaffudh (melafalkan) niat dan mereka yang menghindari praktik tersebut.

Adapun, dilanjutkannya perbedaan paham adalah hal yang lumrah dan terjadi sejak lama. Hanya saja, masing-masing harus tahu porsi masing-masing.

“Bagi masyarakat yang terbiasa melafalkan niat, jangan sampai menjadikan lafal niat itu seakan-akan bagian dari rukun, padahal tidak ada ulama yang mewajibkannya. Jangan menilai bahwa tidak sah ibadah yang tidak melafalkan niat,” tuturnya, dikutip melalui laman resmi NU, Sabtu (2/3/2022).

Dia menjelaskan, bahwa dalam mazhab Syafi’i, niat tak hanya menyengaja melakukan sesuatu (qashdul fi’li), tetapi juga mesti disertai kejelasan jenis ibadah secara spesifik (ta”yîn), serta ketegasan status kefardhuannya (fardliyyah) bila ibadah itu memang fardhu.

Praktik niat puasa adalah pada malam hari hingga terbit fajar, dan disunnahkan melafalkannya.

Untuk itu, ulama Syafi’iyah menawarkan susunan redaksi niat yang sesuai dengan tata cara berniat tersebut. Disusun lafal niat yang kemudian sering didengar hingga kini di masjid-masjid atau madrasah-madrasah di Indonesia yang mayoritas pendudukanya bermazhab Syafi’i.

“Imam An-Nawawi, misalnya, menuliskan bahwa bentuk niat yang sempurna adalah dengan sengaja hati bermaksud berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta'ala,” katanya.

Dia mengatakan, tradisi melafalkan niat puasa Ramadan itu tidak lepas dari pedoman niat dalam pandangan mazhab Imam Syafi’i yang dilaksanakan secara bersama-sama dan usai salat tarawih.

Hal ini tak lepas dari kearifan para ulama Nusantara untuk bersikap hati-hati dari lupa melaksanakan salah satu rukun puasa tersebut.

“Manusia adalah tempatnya lupa, sementara keabsahan puasa Ramadan pertama-tama dinilai dari niatnya. Tentu yang demikian tanpa mengabaikan keyakinan bahwa walaupun tidak diucapkan setelah shalat tarawih atau bahkan tidak diucapkan sama sekali—yang penting dari sejak malam dan sebelum subuh hati kita sudah berniat untuk berpuasa—puasa sudah sah,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenag Ramadan sidang isbat
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top