Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Awal Ramadan 2022 Tak Serentak? Ini Beda Metode Hisab NU dan Muhammadiyah

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1443 H jatuh pada 1 April 2024, bagaimana dengan NU?
Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 01 April 2022  |  15:08 WIB
Awal Ramadan 2022 Tak Serentak? Ini Beda Metode Hisab NU dan Muhammadiyah
Petugas Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan berdoa usai melakukan pemantauan hilal (bulan) untuk menentukan hari Raya Idul Adha 1436 Hijriyah di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (13/9). Pemantauan hilal yang dilakukan dengan mata telanjang tanpa menggunakan teropong tersebut memastikan Idul Adha 1436 Hijiriyah jatuh pada 24 September 2015 di wilayah Sulawesi Selatan. - ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat untuk penentuan 1 Ramadan 1443 H pada Jumat (1/4) sore ini. 

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Adib mengatakan Kemenag telah menetapkan 101 lokasi titik rukyatul hilal di seluruh Indonesia.

Rukyatul hilal dilaksanakan oleh Kanwil Kementerian Agama dan Kemenag Kabupaten/Kota, bekerjasama dengan Peradilan Agama dan Ormas Islam serta instansi lain, di daerah setempat.

“Hasil rukyatul hilal yang dilakukan ini selanjutnya akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan Sidang Isbat Awal Ramadan 1443 H,” kata Adib di Jakarta, Jumat (25/3/2022).

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1443 H jatuh pada 1 April 2024, sedangkan 1 syawal atau Idulfitri jatuh pada Senin, 2 Mei 2022.

Lantas bagaimana dengan Nahdlatul Ulama (NU)? Hingga saat ini belum ada penetapan dari NU terkait 1 Ramadan 1443 H.

Muncul spekulasi dari sejumlah pihak bahwa awal puasa ramadan tahun ini tidak akan serentak. Dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, dalam praktiknya, kerap terjadi perbedaan awal bulan terutama Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Hal tersebut disebabkan perbedaan kriteria teknik pelaksanaan metodenya.

Berikut ini beda metode hisab Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama:

Metode Hisab Nahdlatul Ulama

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengeluarkan kriteria imkan rukyah hilal Nahdlatul Ulama melalui Surat Keputusan LF PBNU No. 001/SK/LF–PBNU/III/2022 Tentang Kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama.

Lembaga Falakiyah dalam lampiran surat keputusannya menyebut ketinggian hilal awal Ramadhan 1443 H minimal 3 (tiga) derajat.

“Tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi hilal minimal 6,4 derajat,” demikian bunyi surat keputusan yang ditandatangani Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa dan Sekretaris LF PBNU H Asmui Mansur pada Kamis (31/3/2022).

Ketinggian hilal minimal 3 derajat pada kriteria imkan rukyah NU ini menjadi dasar pembentukan almanak Nahdlatul Ulama dan dasar penerimaan laporan rukyah hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyyah pada kalender Hijriyyah Nahdlatul Ulama.

Kriteria imkan rukyah NU putusan LF PBNU pada Kamis (31/3) ini mulai diberlakukan sejak awal Ramadhan 1443 H. Sebagaimana diketahui, LF PBNU akan menyelenggarakan aktivitas rukyatul hilal Ramadhan 1443 H pada Jumat (1/4) bertepatan dengan 29 Sya’ban 1443 H di banyak titik mathla’ di Indonesia.

LF PBNU meminta seluruh perukyat untuk dapat melaksanakan aktivitas rukyatul hilal awal Ramadhan 1443 H sesuai dengan kriteria imkan rukyah yang telah diputuskan LF PBNU.

“Apabila ternyata dalam kriteria imkan rukyah Nahdlatul Ulama yang telah ditetapkan ini terjadi kekeliruan, maka pengurus harian Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan meninjau ulang sebagaimana mestinya,” demikian bunyi surat keputusan LF PBNU.

Lantas, apa itu Imkan Rukyat? Imkan rukyat merupakan bagian dari metode hisab hakiki yaitu perhitungan astronomis terhadap posisi Bulan pada sore hari konjungsi (ijtimak). Dalam metode ini, penanggalan berbasis peredaran bulan disebut memasuki perhitungan baru bila pada sore hari ke-29 bulan kamariah berjalan saat matahari terbenam, bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian sedemikian rupa yang memungkinkannya untuk dapat dilihat.

Kriteria yang baru dari Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) menetapkan sudut ketinggian bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 3 derajat.

Sementara di negara lain seperti Mesir sudut ketinggian hilal minimal 4 derajat, di komunitas Muslim Amerika minimal 15 derajat. Kriteria-kriteria ini hanya didasarkan pada kesepakatan belaka bukan alasan astronomis.

Metode Hisab Muhammadiyah

Dengan kriteria Wujudul Hilal (antara arsi merah dan putih), Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 2 April 2022, sedangkan 1 syawal atau Idulfitri jatuh pada Senin, 2 Mei 2022.

Ketetapan itu disampaikan dalam maklumat Pimpinan pusat Muhammadiyah no.01/MLM/I.0/E/2022 tentang penetapan hisab ramadan, syawal dan Djulhidjah.

“Hilal sudah wujud, dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam itu Bulan berada di atas ufuk. Maka 1 Ramadan 1443 H jatuh pada hari Sabtu, 2 April 2022,” tulis Muhammadiyah dalam keterangan resmi dikutip pada Minggu (13/2/2022).

Lantas apa itu Wujudul Hilal? Dalam metode wujudul hilal, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 berjalan saat matahari terbenam terpenuhi tiga syarat berikut secara kumulatif, yaitu pertama, telah terjadi ijtimak, kedua, ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam dan ketiga, pada saat matahari terbenam Bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk.

Menjadikan keberadaan Bulan di atas ufuk saat matahari terbenam sebagai kriteria mulainya bulan baru merupakan abstraksi dari perintah-perintah rukyat dan penggenapan bulan tiga puluh hari bila hilal tidak terlihat.

Sama seperti imkan rukyat, metode wujudul hilal juga bagian dari hisab hakiki. Jika posisi bulan sudah berada di atas ufuk pada saat terbenam matahari, seberapapun tingginya (meskipun hanya 0,1 derajat), maka esoknya adalah hari pertama bulan baru.

Itulah tiga metode penentuan awal bulan kamariah. Sebagai informasi, berdasarkan kriteria wujudul hilal, 1 Ramadhan 1443 H jatuh pada 2 April 2022.

Besar kemungkinan akan terjadi perbedaan dengan kriteria imkan rukyat yang baru, sebab ketinggian hilal pada 29 Syakban di seluruh Indonesia kurang dari 3 derajat, sedangkan pengguna rukyat baru akan memutuskan setelah mereka benar-benar melihat hilal di atas ufuk saat matahari terbenam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

muhammadiyah pbnu Ramadan nahdlatul ulama sidang isbat
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top