Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang Ukraina vs Rusia: Inggris Larang Transaksi dengan Bank Sentral Rusia

Pemerintah Inggris bakal melarang transaksi dengan Bank Sentral Rusia sebagai imbas invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 28 Februari 2022  |  16:26 WIB
Sebuah papan reklame digital menampilkan nilai tukar sejumlah mata uang di pintu sebuah gerai penukaran mata uang di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022).  Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi
Sebuah papan reklame digital menampilkan nilai tukar sejumlah mata uang di pintu sebuah gerai penukaran mata uang di Moskwa, Rusia, Kamis (24/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa serta membuat lantai bursa di sejumlah negara jatuh. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Inggris menyatakan akan melarang transaksi dengan Bank Sentral Rusia sebagai bagian dari sanksi akibat invasi Rusia ke Ukraina

Dikutip melalui BBC, Inggris telah mengumumkan larangan transaksi yang melibatkan Bank Sentral Rusia, dalam langkah terbaru untuk memutuskan lembaga keuangan Moskow dari pasar barat.

Langkah-langkah itu juga akan melarang lembaga keuangan Inggris melakukan transaksi dengan kementerian keuangan Moskow dan dana kekayaan negaranya.

Pejabat mengatakan aturan itu akan mencegah perusahaan-perusahaan Rusia menerbitkan sekuritas yang dapat dialihkan dan instrumen pasar uang di Inggris. Sanksi baru juga mencakup pembatasan lebih lanjut terhadap lembaga keuangan Rusia, langkah-langkah untuk memperkuat pembatasan perdagangan dan langkah untuk mencegah beberapa bank dari mengakses Sterling dan pembayaran kliring melalui Inggris.

“Lebih banyak sanksi akan diumumkan minggu ini,” kata para pejabat Inggris, dikutip melalui BBC, Senin (28/2/2022).

Menteri Keuangan Britania Raya Kanselir Rishi Sunak mengatakan langkah-langkah itu dilakukan demi menunjukkan Negara dalam memberikan sanksi kepada Rusia.

“Ini merupakan tekad kami untuk menerapkan sanksi ekonomi yang berat sebagai tanggapan atas invasi Rusia ke Ukraina,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa langkah itu akan membebankan biaya tertinggi pada Rusia dan memotongnya dari sistem keuangan internasional selama konflik ini berlanjut.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan bahwa Presiden Rusia Putin mengumumkan pasukan nuklir dalam siaga tinggi untuk mengingatkan dunia bahwa Putin hanya ingin mengalihkan perhatian dari apa yang salah di Ukraina.

Dia menilai bahwa tindakan Putin telah dikutuk oleh masyarakat internasional.

"Dia [Putin] tidak dapat melewatkan fakta bahwa satu-satunya sahabatnya saat ini tampaknya adalah Presiden Belarusia. Dia harus menyadari bahwa dia pasti berada di sisi sejarah yang salah di sini," katanya.

Dia mengatakan Inggris tidak melihat apa pun yang merupakan perubahan dalam postur nuklir Rusia. Pasalnya, Inggris juga merupakan kekuatan nuklir dan Putin akan tahu apa pun yang melibatkan senjata nuklir memiliki respons yang sama atau lebih besar dari Barat. Menurutnya, Inggris tidak akan melakukan apa pun untuk meningkatkan situasi nuklir.

“Namun, ini adalah pertempuran retorika dan kami hanya harus memastikan kami mengelolanya dengan benar," katanya.

Sekadar informasi, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa turut menyatakan akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Rusia, secara efektif memutuskan lembaga keuangan utama Moskow dari pasar keuangan Barat.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rusia inggris Perang Rusia Ukraina
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top