Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang! Dino Patti Djalal Ungkap 2 Pemicu Presiden Rusia Putin Berang dan Serang Ukraina

Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menyebut langkah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang mengajak Ukraina bergabung dengan pihaknya sebagai biang kerok Rusia berang.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  13:37 WIB
Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat Divisi Airborne ke-82 berjalan menuju pesawat udara yang akan bertolak ke Eropa Timur di Fort Bragg, Carolina Utara, Amerika Serikat, Senin (14/2/2022). Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengirimkan sebanyak 3000 tentara tambahan guna memperkuat NATO di Eropa Timur untuk mengamankan Ukraina jika klaim serangan Rusia benar-benar terjadi. - Antara/Reuters
Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat Divisi Airborne ke-82 berjalan menuju pesawat udara yang akan bertolak ke Eropa Timur di Fort Bragg, Carolina Utara, Amerika Serikat, Senin (14/2/2022). Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengirimkan sebanyak 3000 tentara tambahan guna memperkuat NATO di Eropa Timur untuk mengamankan Ukraina jika klaim serangan Rusia benar-benar terjadi. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menyebut langkah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang mengajak Ukraina bergabung dengan pihaknya sebagai biang kerok Rusia berang.

Upaya NATO tersebut membuat Rusia terancam dan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan menganeksasi Ukraina.

“Putin belum merasa mendapat kepentingannya di Ukraina. Jadi, sudah sejak lama memang putin ada upaya bagi NATO atau barat untuk menggandeng Ukraina. Walaupun masih perdebatan, diajaknya Ukraina ke NATO itu tetap ada,” ujar Dino dalam diskusi daring, Kamis (24/2/2022).

Menurut Dino, berdasarkan diskusinya dengan pihak Rusia, mereka menolak upaya NATO menjamah negara-negara yang dekat dengan Rusia, di antaranya Ukraina, Georgia, dan Belarusia.

“Bahwa ekspansi NATO ke wilayah yang semakin dekat dengan Rusia itu tidak dapat diterima. Dari pembicaraan saya dengan orang-orang di Rusia paling tidak ada 3 negara itu Putin menolak sama sekali NATO kalau menjamah kesana, Ukraina, Georgia, dan Belarusia,” ujarnya.

Meskipun, lanjut dia, Putin masih mentolerir langkah NATO sudah berhasil menjamah Cekoslovakia, Hungaria, Polandia, Estonia, Bulgaria dan lain sebagainya.

“Namun 3 negara tersebut tidak bisa dijamah oleh NATO. Jadi, ini episode geopolitik yang sudah cukup lama memanas,” lanjutnya.

Kurang Harmonis

Selain itu, upaya Rusia untuk menyerang Ukraina juga disebabkan kurang harmonisnya kedua pimpinan negara eks Uni Soviet tersebut. Dino juga melihat bahwa Putin ingin menunjukkan bahwa Rusia saat ini tidak bisa diremehkan.

“Dia mulai jadi pemimpin pada saat dia merasa dunia Barat meremehkan dan menginjak-injak Rusia. Jadi, ada masa Rusia lemah secara politik ekonomi, militer dan ada kisah Rusia mau bergabung dengan NATO tapi ditolak,” ungkapnya.

“Nah perasaan ini yang membuat jengkel Putin. Apalagi Ketika NATO menempatkan rudak di Polandia, Rumania, Slovenia, meskipun NATO bilang untuk tangkal Iran. Tapi Rusia bilang ‘engga itu untuk mengancam keamanan Rusia’.”

Dino menilai, Rusia saat ini merasa percaya diri bisa menganeksasi Ukraina dengan kekuatannya.

“Saat ini Rusia sangat percaya langkahnya untuk menganeksasi Ukraina. Tahun 2014 itu cukup popular di Rusia,” ujarnya.

Seperti diketahui, Ukraina menyatakan batal bergabung dengan Organisasi Pertahanan Militer Atlantik Utara (NATO). Namun, Rusia nampaknya masih berusaha mengganggu Kiev hingga dirumorkan ingin melancarkan agresi militer ke negara pecahan Uni Soviet itu.

Putin bahkan telah mengakui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk, dua wilayah di timur Ukraina yang selama ini dkuasai kelompok separatis pro-Rusia. Dia mengerahkan sejumlah pasukannya ke dua wilayah itu dengan dalih bagian dari pasukan penjaga perdamaian.

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg, langsung bereaksi mengecam invasi Rusia ke Ukraina. Ia menyebut aksi itu sebagai 'serangan yang sembrono dan tak beralasan, Kamis (24/2/2022). 

Dia juga menilai tindakan tersebut mengancam banyak nyawa.

"Saya sangat mengecam serangan sembrono dan tak beralasan Rusia di Ukraina, membahayakan warga sipil yang tak terhitung jumlahnya," kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan, Kamis (24/2), dikutip dari AFP.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia ukraina
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top