Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas! 5 Pekan ke Depan Kasus Covid-19 di Luar Jawa-Bali Meningkat

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covis-19 Wiku Adisasmito menyampaikan dalam kurun 5 minggu terakhir kasus Covid-19 mengalami peningkatan.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  07:40 WIB
Ilustrasi Omicron. - Antara
Ilustrasi Omicron. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan dalam kurun 5 minggu terakhir kasus Covid-19 mengalami peningkatan.

Adapun, yang harus diwaspadai pada proporsi kasus nasional terjadi pergeseran ke provinsi-provinsi di luar wilayah Jawa-Bali. Bahkan yang dikhawatirkan, kenaikan kasus saat ini seiring peningkatan keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit dan kematian pasien Covid-19.

"Perlu saya tekankan, saat ini kita perlu waspada secara menyeluruh sebab data menunjukkan telah terjadi pergeseran tren kasus ke provinsi luar Jawa-Bali," katanya, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (23/2/2022)

Sebelumnya, proporsi kasus nasional sangat didominasi provinsi-provinsi dari Jawa-Bali dengan persentase 95,34 persen. Namun, angka ini makin menurun dan kontribusi dari provinsi luar Jawa Bali meningkat dari 3-4 persen hingga mencapai 24 persen dari total kasus nasional. Kenaikannya pun lebih cepat dan signifikan.

Melihat kembali pada Januari lalu, kasus mingguan di luar Jawa-Bali berkisar 600 kasus, sekarang angkanya meningkat tajam menjadi 95.000 kasus. Bahkan kenaikan kasus dari 10 provinsi luar Jawa - Bali naik 100-300 kali lipat.

“Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan pada awal Januari lalu berkisar 40 kasus saja,” katanya

Dari perbandingan data akhir Januari 2022 dengan minggu terakhir ini, Sumatra Utara kenaikan kasus mingguan tertinggi dengan penambahan sebesar 12 ribu kasus dalam 1 minggu.

Disusul Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur bertambah 10 ribu kasus, Sumatera Selatan 6.600 kasus, Sulawesi Utara 5.800, Lampung 5.500, Papua 4.400, Riau dan Kalimantan Selatan 4.200 kasus, serta Sumatra Barat 3.400 kasus.

Meskipun tidak setinggi pada gelombang kasus akibat varian delta lalu, angka BOR dan kematian juga naik, tetapi angka kematian pada 9 dari 10 provinsi tersebut, meningkat hingga 29 kali lipat kecuali Papua.

Sebelumnya, provinsi-provinsi tersebut hampir tidak mencatatkan angka kematian atau sangat minim sekitar 1 - 5 kematian dalam 1 minggu.

Luar Jawa-Bali 

Saat ini, Kalimantan Selatan dengan kenaikan angka kematian tertinggi yaitu 29 orang meninggal dalam 1 minggu, diikuti Sulawesi Selatan 27 kematian, Sumatera Selatan 26 kematian, Lampung 25 kematian, dan Kalimantan Timur 19 kematian.

Sementara dari sisi BOR Isolasi RS rujukan, 10 provinsi mengalami tren kenaikan. Di akhir Januari lalu, BOR di 10 Provinsi ini berkisar 2—5 persen, tetapi saat ini menjadi 20—40 persen.

Berdasarkan, dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 20 Februari 2022, BOR pada 7 dari 10 provinsi ini sudah melebihi 30 persen. Bahkan di Sumatea Selatan sudah mencapai 45 persen. Disusul Sulawesi Utara 38 persen, Sulawesi Selatan dan Sumatra Utara 35 persen, Lampung 33 persen, Kalimantan Timur 33 persen, serta Kalimantan Selatan 31 persen. Hanya Papua yang BOR-nya masih rendah, yaitu 19 persen.

Oleh sebab itu, dia melanjutkan bahwa mendesak penyesuaian strategi pengendalian. Jika pada 3 minggu kebelakang penanganan di fokuskan di Provinsi Jawa—Bali, maka saat ini kedepan perlu juga memantau perkembangan dan mengevaluasi penanganan Covid-19 di Provinsi luar Jawa—Bali.

"Seperti yang saya pernah sampaikan, setiap terjadi kenaikan kasus di Jawa Bali maka dalam 2—3 minggu setelahnya akan disusul peningkatan di luar Jawa - Bali pula," kata Wiku.

Salah satu upaya penting dilakukan dengan terus meningkatkan pencegahan penularan hingga level terkecil. Dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro melalui Posko Desa/Kelurahan.

Sayangnya, baik pembentukan maupun kinerjanya saat ini terus menurun, padahal, masih terdapat 53.549 Desa/Kelurahan atau 60% dari total yang belum membentuk posko. Bahkan, pembentukan posko baru minggu ini hanya bertambah 25 posko.

"Jauh lebih rendah daripada penambahan sebelumnya," katanya

Dia melanjutkan pada kinerja posko yang terlaporkan, jumlahnya juga terus menurun. Membandingkan kinerja posko pada gelombang Delta lalu, sempat mencapai 5,5 juta laporan.

“Sementara beberapa minggu terakhir ini hanya sekitar 1 juta laporan saja. Melihat hal ini, sangat dimohon seluruh pimpinan daerah, kepada bupati/wali kota terutama pada provinsi luar Jawa-Bali kembali menggalakkan pembentukan dan kinerja posko di daerahnya,” katanya

Dia meminta, pemerintah daerah (pemda) juga perlu kembali menegakkan protokol kesehatan sesuai dengan level PPKM-nya. Utamakan kegiatan untuk menekan kenaikan kasus daripada sekedar imbauan.

Seperti pembubaran kerumunan, penegakan disiplin protokol kesehatan, serta pelacakan kontak erat. Lalu, penanganan cepat pasien positif serta pemantauan warga isolasi mandiri di rumah. Upaya-upaya ini dirasa jauh lebih efektif dengan koordinasi posko daerah.

Di samping itu, pastikan ketersediaan obat-obatan, baik di apotik maupun melalui telemedicine. Juga, progres vaksinasi harus menjadi perhatian pemerintah daerah Provinsi di Jawa-Bali, mengingat masih ada yang belum mencapai target baik vaksinasi pertama, kedua, maupun boosternya. 

"Saya harap dapat terjadi perbaikan jumlah laporan kinerja Posko dan pembentukan Posko baru dalam 2 minggu ke depan," pungkas Wiku.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 PPKM Satgas Covid-19
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top