Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Menteri Nadiem Buka Suara Soal 2,5 Persen Sekolah Jadi Klaster Covid-19

Angka 15.000 murid dan 7.000 guru yang positif Covid-19 itu merupakan data mentah yang banyak sekali kesalahannya.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 27 September 2021  |  19:30 WIB
Menteri Nadiem Buka Suara Soal 2,5 Persen Sekolah Jadi Klaster Covid-19
Tangkapan layar - Menteri Pendidikan dan Kebudyaan Ristek Nadiem Makarim. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim meluruskan soal temuan 2,5 persensekolah menjadi klaster Covid-19 saat proses pembelajaran tatap muka berlangsung.

Menurut Nadiem, data tersebut merupakan data kumulatif sejak pandemi berlangsung di Indonesia.

“Yang patut diluruskan kembali adalah sekolah yang menjadi klister Covid-19 sebesar 2,8 persen itu adalah data kumulatif bukan satu bulan terakhir,” jelas Nadiem.

Mantan bos GoJek itu menyebut, angka 15.000 murid dan 7.000 guru yang positif Covid-19 itu merupakan data mentah yang banyak sekali kesalahannya.

“Contohnya banyak sekali laporan positif Covid-19 melebihi jumlah murid sekolah-sekolahnya. Kita harus berfokus dari data yang ada, terutama dari Kemenkes,” tuturnya,

Ke depannya, lanjut Ndiem, Kemendikbudristek akan berkolaborasi dengan Kemenkes agar sekolah aman saat PTM. “Pertama, memastikan sekolah-sekolah mendukung fasilitas random, testing, sampling yang dilakukan. Dan kita akan menutup sekolah jika sudah melebih 5 persen positivity rate. Secara klinis jauh lebih valid, targeted dan tidak merugikan,” paparnya.

“Kedua, integrasi kepada PeduliLindungi dan mengimplementasikan itu di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Adapun Nadiem juga khawatir bahwa hanya 40 persen sekolah yang bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Padahal, saat ini dirinya telah memberik izin 60 persen sekolah terkait pelaksanaan PTM.

“Data dari Bank Dunia betapa menyeramkannya learning loss di luar kondisi yang terjadi, terutama di tingkat PAUD dan SD yang mereka lebih membutuhkan PTM. Ini dampaknya lebih mencemaskan lagi seberapa lama anak-anak sudah melaksanakan PJJ yang jauh di bawah efektivitas PTM,” ujar Nadiem dalam keterangannya yang disiarkan langsung di Youtube Sekretariat Presiden, Senin (27/9/2021).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nadiem Makarim Covid-19 pembelajaran tatap muka
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top