Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Panglima TNI Ungkap Kesulitan Tes dan Lacak, Masih di Bawah Standar WHO

Jika sesuai dengan standar WHO, dalam pelaksanaan tracing kontak seharusnya rasionya 1:30. Namun, di Indonesia saat ini baru bisa dilaksanakan 1:1.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 26 Juli 2021  |  16:03 WIB
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat bersiap memberikan arahan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2021 di Mabes TNI, Jakarta, Selasa (16/2/2021). - Antara/Akbar Nugroho Gumay
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat bersiap memberikan arahan dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2021 di Mabes TNI, Jakarta, Selasa (16/2/2021). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Panglima TNI Hadi Tjahjanto mengungkapkan kesulitan di lapangan dalam proses testing dan tracing terhadap kontak erat pasien Covid-19.

Hadi mengungkapkan tracing kontak erat saat ini dilaksanakan di lapangan dilaksanakan oleh Babinsa bhabinkamtibmas dan dari Dinas Kesehatan seperti dari Puskesmas dan bidan desa. Namun, mereka melakukan secara manual dengan cara mendatangi masyarakat yang disinyalir melakukan kontak erat terhadap kasus konfirmasi.

“Mereka harus datang, mewawancarai, kemudian memberikan penyuluhan kapan dilaksanakan tes dengan menggunakan alat tes PCR, kapan melaksanakan karantina, dan kapan juga melaksanakan exit test dengan menggunakan PCR,” ujarnya, Senin (26/7/2021).

Hadi mengungkapkan, jika sesuai dengan standar WHO, dalam pelaksanaan tracing kontak seharusnya rasionya 1:30. Namun, di Indonesia saat ini baru bisa dilaksanakan 1:1.

“Jadi baru bisa 1 terkonfirmasi dan 1 yang kita laksanakan tracing kontak erat,” ujarnya.

Untuk memenuhi standar WHO tersebut, TNI, Polri, BNPB, dan Kemenkes mengupayakan dengan memperbanyak tracer-tracer dari TNI, Polri, dan Dinas Kesehatan, termasuk dari BNPB.

“Saat ini ada 63.000 tenaga tracer dari TNI tersebar di wilayah-wilayah untuk membantu Kepala Puskesmas, bidan desa melaksanakan tracing kontak erat kepada masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, dari Kementerian Kesehatan memberikan pelatihan bagi tracer digital, tujuannya untuk mempermudah pelaksanaan tracing kontak erat setelah mendapatkan notifikasi konfirmasi positif.

Tracer digital akan mewawancarai masyarakat yang harus ditracing kontak erat dengan menggunakan alat komunikasi melalui Whatsapp maupun telepon.

“Namun bila menemui kendala, maka tracer lapangan Babinsa dan bhabinkamtibmas, termasuk dari bidan Desa akan secara manual mendatangi masyarakat yang disinyalir terkena atau terpapar Covid 19,” imbuhnya.

TNI Polri juga telah melakukan pelatihan bagi anggotanya untuk bisa mengetahui cara kerja dari aplikasi Silacak, agar kemudian bisa diimplementasikan di lapangan. Kemudian, dari BNPB juga memberikan bantuan sebanyak 7.000 tracer digital yang akan disebar di seluruh wilayah Jawa dan Bali.

“Tracer digital ini adalah salah satu bentuk upaya untuk melipatgandakan kemampuan tracer digital yang ada di lapangan yang saat ini sebagian sedang melaksanakan pelatihan,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polri who panglima tni Covid-19
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top