Bisnis.com, JAKARTA - Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 25 Juli 2021 dinilai tetap harus disertai peningkatan testing yang signifikan agar menghasilkan penurunan kasus Covid-19 yang optimal.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai, perpanjangan PPKM Darurat merupakan strategi tambahan.
Adapun cara utama yang paling ampuh adalah dengan meningkatkan 3 T (testing, tracing, dan treatment).
"Tentu [perpanjangan] ini diambil dengan berbagai pertimbangan. Strategi utama pandemi ini harus pada prinsip dasar, yaitu 3T. Kalau melakukan 3T dengan optimal, kita akan terhindar dari jebakan pembatasan atau lockdown," katanya saat dihubungi Bisnis pada Rabu (21/7/2021).
Menurutnya, testing di Indonesia harus ditingkatkan secara ekstrem hingga 80 persen dari kasus kontak. Selain itu, isolasi karantina harus diberlakukan secara efektif.
"Tentunya ini sebaiknya dilakukan mayoritas di tempat tersentralisasi terutama pada kelompok berisiko supaya kita bisa terhindar dari beban lanjutan," ujarnya.
Baca Juga
Jika peningkatan 3T tidak juga dilakukan, maka Indonesia akan mengalami kondisi yang semakin repot.
Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan, penurunan kasus Covid-19 utamanya harus didorong dari perubahan perilaku dalam menghindari penularan Virus Corona.
"Persepsi saya akan dilonggarkan tanggal 25 Juli, apapun yang terjadi. Perilaku penduduk yang mendorong penyebaran virus," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengumumkan perpanjangan PPKM Darurat hingga 25 Juli 2021 melalui konferensi pers virtual, Selasa (20/7/2021) malam, dari Istana Negara di Jakarta.
Pemerintah bakal melonggarkan PPKM Darurat secara bertahap mulai 26 Juli 2021 dengan syarat kasus Virus Corona atau Covid-19 menurun.