Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pandemi Covid-19, Kematian dan Kemiskinan Jadi Ancaman Global

Anis mengakui varian-varian baru yang muncul dari mutasi Virus Corona ternyata lebih dahsyat dari vaksin yang sudah ada sebelumnya.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 14 Juli 2021  |  12:45 WIB
Warga beraktivitas di kawasan permukiman padat penduduk, di bantaran Kali Krukut Bawah, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (20/7/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar
Warga beraktivitas di kawasan permukiman padat penduduk, di bantaran Kali Krukut Bawah, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (20/7/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta mengatakan, bahwa  dunia saat ini sedang mencari arah baru dari sebuah perubahan besar akibat krisis ekonomi global yang dipicu pandemi Covid-19.

“Krisis ini ditandai adanya dua panorama baru, yakni kematian dan kemiskinan yang bisa disaksikan sekarang dan masa-masa mendatang,” ujarnya dalam rekaman video saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks dengan tema 'Pandemi Covid-19: Bagaimana Negara Bertahan & Menghadapi Perubahan Besar?', Rabu (14/7/2021).

Anis mengakui varian-varian baru yang muncul dari mutasi Virus Corona ternyata lebih dahsyat dari vaksin yang sudah ada sebelumnya.

"Kita sekarang seperti buah simalakama, tidak ada pilihan yang enak. Dari semua pilihan, ada harga yang harus kita bayar," katanya dalam diskusi virtual yang disiarkan live di streaming Channel Youtube Gelora TV tersebut.

Anis menilai, krisis ekonomi sekarang bisa berkembang menjadi krisis sosial, dan krisis politik yang akan terjadi di semua negara.

Menurutnya, pandemi hanya merupakan pertanda awal dan trigger yang sekarang memasuki rute kedua dari pandemi menjadi krisis ekonomi global.

Dikatalan, total kerugian finansial global mencapai US$20 triliun sejak satu setengah tahun lebih dunia dilanda pandemi Covid-19. Angka ini setara dengan 24 persen PDB global pada tahun 2020 yang mencapai US$84 triliun.

Karena itu, Anis mengatakan harus mengetahui kontur perubahan global krisis yang berlarut  mulai dari pandemi, krisis ekonomi, krisis sosial dan krisis politik.

“Krisis berlarut ini tengah membuat sistem tatanan dunia baru dari sebuah perubahan besar akibat krisis ekonomi global yang dipicu pandemi Covid-19,” katanya.

Sementara itu, Dubes RI untuk China, Djauhari Oratmangun mengatakan, China saat ini sudah terbebas dari pandemi Covid-19. Jika ditemukan kasus Corona, bukan dari China, melainkan berasal dari kasus impor.

Kini sudah ada 10 provinsi di China yang bebas dari Covid-19, katanya.

"Lockdown hanya di Provinsi Hubei dan Kota Wuhan, sementara lainnya dilakukan pembatasan pergerakan seperti PPKM. China bisa cepat bangkit, ekonominya naik terus. Triwulan pertama 2021 sudah 18 persen, ini luar biasa," kata Djauhari.

Hal senada disampaikan Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya.

Dikatakan, Selaindia Baru sukses mengatasi Covid-19, sehingga bisa melepas masker hingga menggelar konser pada April lalu. Apabila ditemukan kasus baru, langsung dikarantina selama 14 hari, katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krisis ekonomi Virus Corona Covid-19
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top