Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

138.000 Pengguna Kendaraan Maksa Mudik, Pahami Risikonya!

Ketidakpatuhan masyarakat untuk mematuhih larangana mudik bisa menimbulkan penularan Covid-19 di perjalanan dan wilayah tujuan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 11 Mei 2021  |  16:59 WIB
Polri melakukan pemeriksaan kendaraan minibus yang diduga travel gelap dan hendak membawa pemudik di TL Perintis Kemerdekaan, Jakarta Utara, Kamis (6/5/2021) malam. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @tmcpoldametro
Polri melakukan pemeriksaan kendaraan minibus yang diduga travel gelap dan hendak membawa pemudik di TL Perintis Kemerdekaan, Jakarta Utara, Kamis (6/5/2021) malam. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @tmcpoldametro

Bisnis.com, JAKARTA – Staf Khusus Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebutkan banyak kendaraan yang berhasil lolos tetap mudik pada masa pelarangan mudik dilakukan mulai 6 Mei 2021 lalu.

Dikhawatirkan terjadi penularan Covid-19 di perjalanan dan wilayah tujuan tak mampu melakukan penanganan.

Adita menjelaskan mengapa mudik ini sebaiknya tidak dilakukan. Pertama, mudik bisa dikatakan sebagai ritual masyarakat setiap tahun yang tidak hanya dilakukan oleh saudara-saudara kita yang muslim dan merayakan lebaran Idulfitri, tapi juga yang nonmuslim untuk yang memanfaatkan hari libur untuk bepergian dan wisata.

Kegiatan ini menyebabkan mobilitas massa yang masif dan dilakukan dalam kurun waktu yang bersamaan.

“Dari pembelajaran-pembelajaran dan dari pola-pola yang kami amati, mobilitas itu memang punya potensi untuk menjadi tempat penularan dan juga mempunyai potensi untuk menimbulkan lonjakan kasus. Itu sudah beberapa kali kita alami,” kata Adita pada dialog Serba-Serbi Covid-19, Selasa (11/5/2021).

Pemerintah baik melalui Satgas Covid-19 dan Kementerian yang lain sudah menyampaikan agar masyarakat berhati-hati kalau melakukan perjalanan dan liburan panjang, karena efeknya bisa fatal.

Kemudian, ketika sudah sampai di kampung halaman, belum tentu daerah tujuan punya akses terhadap testing dan tracing yang mencukupi. Oleh karena itu, masyarakat yang punya rencana mudik jadi kita juga harus menyadari.

“Ini juga harus kita perhatikan ya, mungkin anda sehat tapi ketika anda nanti sampai daerah kemudian tertular, belum tentu nanti bisa betul-betul ditangani dengan baik itu karena ketersediaan dari alat-alat itu kan juga tidak sama,” imbau Adita.

Per hari ini, Kemenhub mencatat khususnya untuk yang kendaraan pribadi dan sepeda motor itu lebih dari 138.000 perhari yang mobil yang keluar dari Jakarta dan motor juga banyak sekali.

Sebagian memenuhi syarat, tapi sebagian yang lain itu adalah pihak-pihak yang ‘ngeyel’. Pun sudah diminta putar balik, mereka masih aja yang bersikeras untuk tetap berangkat mudik.

“Jadi saya pikir kita masih ada beberapa hari untuk periode larangan mudik, mudah-mudahan banyak yang masih bisa menahan diri. Dan kalaupun yang sudah sampai juga menyadari betul bahwa di daerahnya ini mereka harus bisa betul-betul menerapkan protokol kesehatan dan syukur mencoba testing,” ujar Adita.

Jangan sampai para pemudik yang lolos menjadi pembawa virus ke kampung halaman dan membahayakan keluarga serta para tetangga di lingkungan sekitar.

“Bayangkan kalau misalnya terjadi penularan massal, dan sudah ada contohnya ada yang mudik di satu kampung, kemudian dari satu orang tersebut menularkan keluarganya, kemudian menularkan ke tetangganya karena ikut beribadah bersama dan akhirnya daerah tersebut menjadi chaos,” kata Adita.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian perhubungan Mudik Lebaran idul fitri Covid-19
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top