Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pakar Sebut Vaksinasi di Indonesia Berjalan Lambat, Benarkah Demikian?

Pakar Geonitika Molekuler dan Biokimia Halida P Widyastuti memperkirakan Indonesia membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk mencapai target kekebalan komunal atau herd immunity.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 April 2021  |  15:07 WIB
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada lansia di Istora Senayan, Jakarta, Senin (8/3/2021). Kementerian BUMN menggelar Sentra Vaksinasi Bersama Covid-19 bagi lansia untuk mendorong percepatan program vaksinasi nasional demi mencapai target satu juta vaksin per bulan.  - Antara\r\n
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada lansia di Istora Senayan, Jakarta, Senin (8/3/2021). Kementerian BUMN menggelar Sentra Vaksinasi Bersama Covid-19 bagi lansia untuk mendorong percepatan program vaksinasi nasional demi mencapai target satu juta vaksin per bulan. - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Ahli Geonitika Molekuler dan Biokimia Halida P Widyastuti menyatakan jika tingkat kepesertaan vaksinasi masih bergerak lambat.

Dia memperkirakan Indonesia membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk mencapai target kekebalan komunal atau herd immunity dari ancaman penularan Covid-19.

"Vaksinasi kita rate-nya masih rendah, hanya 2,2 persen dari populasi. Pemerintah menargetkan vaksinasi harus 1 juta orang per bulan, tapi rate ini diperkirakan merendah lagi, karena ada embargo dari negara produsen vaksin seperti India," katanya dalam webinar Media Gathering bertajuk "Percepatan Penanganan dan Pemulihan Covid-19" seperti dikutip Antara, Senin (26/4/2021).

Hilda menuturkan tingkat kepesertaan vaksinasi di Indonesia berjalan sangat lambat karena berbagai faktor, seperti ketergantungan pada impor vaksin hingga keterbatasan bahan baku serta infrastruktur penyimpanan vaksin. Selain itu, masih ada keraguan sebagian masyarakat untuk menerima vaksin yang disediakan pemerintah.

Melihat situasi yang terjadi sekarang, kata Hilda, penting untuk mengevaluasi kembali apakah kebijakan yang sudah diimplementasikan oleh pemerintah efektif dalam pengendalian pandemi.

"Selama ini ada karantina wilayah, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat [PPKM], ganjil-genap dan lainnya ini sebenarnya memiliki tingkat kesuksesan yang rendah, sebab ada celah, seperti membolehkan sekian orang bekerja di kantor," imbuhnya.

Padahal, kebijakan itu seharusnya ditaati dan dilakukan untuk membatasi pergerakan masyarakat supaya virus Covid-19 tidak menyebar.

Apalagi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memproyeksikan vaksinasi rate akan turun dari 1 juta orang per bulan jadi 500 ribuan.

"Ini akan mempengaruhi proses pembentukan herd immunity. Berdasarkan perkiraan Universitas Jhon Hopkins, dibutuhkan sekitar 10 tahun untuk Indonesia mencapai herd immunity jika kecepatan vaksinasi kita tetap seperti sekarang," katanya.

Menurut Profesor Gypsyamber D’Souza dari Johns Hopkins University, herd immunity dapat diartikan kekebalan komunal yang terbentuk ketika hampir seluruh orang dari sebuah populasi memiliki kekebalan (imun) terhadap suatu penyakit. Adapun sebagian kecil yang lainnya akan terlindungi meski tidak memiliki kekebalan yang sama.

Sebagai contoh, ketika 80 persen orang dalam satu populasi kebal terhadap penyakit, itu berarti empat dari lima orang yang berinteraksi dengan orang yang sakit, tidak akan ikut jatuh sakit karena sudah memiliki kekebalan tubuh.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa kemungkinan penyebaran penyakit rendah, sehingga tidak lagi menyebabkan banyak kasus. Pada tahap inilah herd immunity terbentuk.

Hilda menyarankan sejumlah solusi untuk mempercepat proses vaksinasi Covid-19, seperti pemberlakuan kebijakan berdasarkan ilmu pengetahuan, memperketat pergerakan masyarakat dengan didukung bantuan sosial yang mencukupi.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengintensifkan kampanye vaksinasi agar muncul keinginan masyarakat untuk ikut serta dalam program tersebut.

"Kita juga harus meningkatkan kapasitas tes dan pelacakan kontak. Kita harus bisa melatih teknisi laboratorium sebanyak mungkin dan meningkatkan kapasitas laboratorium di seluruh Indonesia," ungkap Hilda.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Vaksin Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top