Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mendikbud: 85 Persen Sekolah Asia Pasifik Sudah Buka, Kita Ketinggalan

Pada Januari, semua daerah sudah boleh sekolah tatap muka. Realitanya, kata Nadiem, hanya 22 persen dari total sekolah yang melakukan PTM.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 30 Maret 2021  |  15:13 WIB
Ilustrasi - Siswa kelas IX SMP Negeri 7 Solo berjalan dengan menjaga jarak aman saat pulang meninggalkan sekolah seusai mengikuti Simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah, Rabu (24/3/2021)./JIBI - Solopo/Nicolous Irawan
Ilustrasi - Siswa kelas IX SMP Negeri 7 Solo berjalan dengan menjaga jarak aman saat pulang meninggalkan sekolah seusai mengikuti Simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah, Rabu (24/3/2021)./JIBI - Solopo/Nicolous Irawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah resmi meneken kebijakan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Pembelajaran Tatap Muka terbatas selama masa pandemi Covid-19 tahun 2021.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memaparkan sebelumnya SKB 4 menteri sudah dikeluarkan pada Juli 2020 untuk zona hijau dan kuning sudah boleh PTM.

Kemudian, pada Januari, semua daerah sudah boleh sekolah tatap muka.

Realitanya, kata Nadiem, hanya 22 persen dari total sekolah yang melakukan PTM. Bahkan, di zona hijau hanya 41 persen sekolah yang tetap muka.

“Kami ingin mengimbau apalagi di daerah yang sulit sinyal, sulit PJJ dan tidak punya gawai, ini tanggung jawab Pemda memastikan sekolah kembali dibuka dan melakukan pembelajaran tatap muka,” tutur Nadiem pada peluncuran SKB 4 Menteri, Selasa (30/3/2021).

Menurutnya perkembangan PTM di Indonesia masih terlalu pelan, sehingga harus didorong lebih jauh menggunakan SKB yang baru dan dengan datangnya vaksinasi untuk para guru dan tenaga pendidik.

“Kita sudah ketinggalan dari negara lain, 85 persen di Asia Pasifik sudah PTM. Seluruh pakar dunia sepakat bahwa penutupan sekolah bisa menghilangkan pendapatan hidup 1 generasi. Loss of learning ini real dan dampaknya permanen,” jelasnya.

Menurutnya, PJJ selama setahun sudah terlalu lama, dan dampaknya pada kesehatan, perkembangan, dan kesehatan mental anak dan orang tua yang sulit bekerja di luar karena harus mengurus anak di rumah makin parah.

Nadiem memaparkan trennya di Indonesia mengkhawatirkan, ada penurunan capaian pembelajaran terutama di daerah yang aksesnya sulit dan kualitas pembelajaran tidak tercapai sehingga kesenjangan ekonomi makin besar.

Banyak pula orang tua yang tidak melihat peran sekolah sehingga anak terpaksa ditarik dari sekolah dan putus sekolah. Kemudian, banyak juga isu kekerasan domestik yang tidak terdeteksi.

“Risiko masa depan, psikososial, kesehatan mental jadi rentan, sehingga kita harus ambil tindakan sehingga tidak sampai 1 generasi tertahan perkembangan dan kesehatan mentalnya,” tegas Nadiem.

Pembukaan sekolah juga didasarkan pada data dan riset dari para ahli, yang menyebutkan bahwa pendidik dan tenaga pendidik sebagai orang yang lebih tua justru punya kerentanan lebih tinggi terpapar virus.

Sementara itu, anak usia 3-18 tahun meskipun tidak tertutup pada kemungkinan tertular, mortalitas atau angka kematiannya sangat rendah dibandingkan dengan kelompok usia lain, serta hanya mengalami gejala ringan apabila sampai terpapar Covid-19.

Di sisi lain, kelompok usia 31-59 dan di atas 60 tahun memiliki tingkat kematian akibat Covid-19 yang lebih tinggi, bahkan hingga 50 persen pada lansia, dan tenaga pendidik berada pada usia ini.

“Oleh karena itu, dengan adanya vaksinasi bagi guru dan tenaga kependidikan, bersama-sama kita buka kembali sekolah untuk belajar tatap muka,” imbuh Nadiem.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sekolah mendikbud Nadiem Makarim
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top