Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bupati Terpilih Sabu Raijua Warga Amerika Serikat, Pengamat: Batalkan Kemenangan di Pilkada!

Mekanisme pembatalan tersebut ada dan diatur dalam undang-undang no 10 tahun 2016
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Februari 2021  |  12:03 WIB
Pengamat Politik di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) Jhon Tuba Helan. - Antara
Pengamat Politik di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) Jhon Tuba Helan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat Politik di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) Jhon Tuba Helan mengatakan, kemenangan dari bupati terpilih Sabu Raijua Orient Riwu Kore bisa dibatalkan setelah ada konfirmasi resmi dari Kedubes Amerika Serikat (AS) bahwa yang bersangkutan adalah warga negara Amerika Serikat.

"Menurut saya, kemenangan dari yang bersangkutan bisa dibatalkan atau dianulir, karena memang secara undang-undang yang bersangkutan tidak memenuhi syarat," katanya di Kupang, Rabu (3/2/2021).

Hal ini disampaikan berkaitan dengan temuan dalam Pilkada Sabu Raijua yang menyatakan, bahwa bupati terpilih Orient Riwu Kore masih berstatus sebagai warga negara AS setelah surat konfirmasi dari kedubes AS diterima oleh Bawaslu Sabu Raijua pada Selasa (2/2/2021).

Jhon Tuba Helan mengatakan, bahwa untuk mekanisme pembatalan tersebut ada dan diatur dalam undang-undang no 10 tahun 2016 perubahan terhadap UU Pilkada itu sudah sangat mutlak.

Bahkan, setelah dilantik juga menurut dia, bisa dibatalkan, karena tidak bisa seorang kepala daerah itu warga negara asing yang sudah diatur oleh undang-undang secara jelas.

"Di UU Pilkada jelas disebut bahwa calon kepala daerah bupati dan wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat. Jadi, sudah jelas bahwa yang boleh menjadi kepala daerah adalah WNI," tegasnya.

Jhon juga menambahkan, bahwa karena tidak memenuhi syarat sebagai karena statusnya WNA, maka suara yang diperoleh juga tidak memenuhi syarat. Dan memang harus dianulir, sebab ini menyangkut prinsip jadi tidak boleh terabaikan.

Menurut Jhon yang juga dosen Hukum Tata Negara di Universitas Nusa Cendana Kupang itu, Orient harusnya menyadari, bahwa dirinya adalah masih warga negara AS dan jika ingin ikut dalam pilkada harus terlebih dahulu mengubah status kewarganegaraannya.

Jhon menilai, bahwa kesalahan pertama tentunya ada pada bupati terpilih yang tahu dan mau mendaftar ikut dalam pilkada di Sabu Raijua.

Selain itu, juga Jhon menilai bahwa kejadian yang terjadi di Sabu Raijua adalah juga bukti ketidaktelitian penyelenggara Pilkada yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan juga Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang kemudian meloloskan seorang warga negara AS masuk dalam Pilkada di Sabu Raijua.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

warga negara Pilkada 2020

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top