Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GeNose Dipesan Kantor Staf Presiden, 100 Unit Ludes Terjual

Alat ini bukan mendeteksi virusnya, tapi senyawa yang secara spesifik berbeda yang dikeluarkan orang pengidap Covid-19. Teknologi AI itu nantinya akan melakukan analisa dan memberikan hasil screening-nya.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  02:21 WIB
Ilustrasi GeNose yang bisa digunakan menyaring orang yang terinfeksi Covid/19 melalui deteksi nafas.
Ilustrasi GeNose yang bisa digunakan menyaring orang yang terinfeksi Covid/19 melalui deteksi nafas.

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah mendapatkan izin edar dari Kementerian Keshatan, alat pengendus virus corona Covid-19 GeNose yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai banyak yang memesan, tak terkecuali Kantor Staf Presiden (KSP) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemristek/BRIN).

Hal itu disampaikan oleh masing-masing lembaga tersebut dalam acara konferensi pers virtual Perkembangan GeNose dan Rapid Test Antigen CePAD, Senin (28/12/2020). “Jangan lupa KSP sudah pesan satu, karena yang kerja di kantor 80 persen,” ujar Kepala KSP Moeldoko yang hadir dalam acara itu.

GeNose atau kependekan dari Gadjah Maha Electronic Nose merupakan alat pendeteksi Covid-19 melalui napas yang dihembuskan oleh pasien terduga terinfeksi virus. Alat ini dibekali dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bisa mendeteksi partikel spesifik pengidap Covid-19 yang dikeluarkan pasien.

Alat ini bukan mendeteksi virusnya, tapi senyawa yang secara spesifik berbeda yang dikeluarkan orang pengidap Covid-19. Teknologi AI itu nantinya akan melakukan analisa dan memberikan hasil screening-nya.

Menurut Moeldoko, alat tersebut bisa digunakan di berbagai tempat, seperti pabrik-pabrik industri, sekolah, perkantoran dan tempat lain yang memerlukan alat screening. “Untuk itu perlu dipresentasikan ke Menperin, Menparekraf, dan Menpan RB, Mendikbud,” ujar Moeldoko.

Dia juga meminta agar GeNose segera disosialisasikan agar bisa meng-cover seluruh tempat yang memerlukan alat tersebut. “Sehingga produktivitas bisa tetap berjalan, sekolah bisa dimulai, dan pariwisata, serta perkantoran bisa dilakukan, ini perlu mempresentasikannya,” tutur dia.

Dari segi akurasi, GeNose diklaim memiliki akurasi deteksi 93-85 persen berdasarkan uji yang sudah dilakukan. Alat ini diharapkan bisa memberikan dampak maksimal, dan membantu melakukan screening untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sementara, perwakilan dari Kemristek/BRIN disampaikan oleh Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Ali Ghufron Mukti. “Kami juga Kemristek pesan 20 unit,” ujar dia yang juga hadir dalam acara tersebut.

Salah satu pengembang GeNose, Dian K. Nurputra, menerangkan bahwa tim saat ini akan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. “Karena produksinya masih terbatas. Kami sudah ada 100 unit GeNose, tapi langsung ludes terjual. Kami menargetkan 2.000-5.000 unit hingga akhir Januari,” kata Dian.

GeNose, Dian menambahkan dibanderol seharga Rp62 juta per unit. "Harga tersebut sudah termasuk pelatihan penggunaan alat. Bukan pelatihan deteksinya ya, karena deteksi dilakukan oleh kecerdasan buatan (AI)," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ugm Virus Corona

Sumber : Tempo.co

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top