Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sejarah Golput dan Riuh Netizen dalam Pilkada 2020

Golput adalah tindakan datang ke TPS namun memberikan suara di luar ketentuan. Gerakan Golput bukan pasif dengan berdiam di rumah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Desember 2020  |  12:51 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi putranya Ali Mannagalli menggunakan hak pilihnya pada Pilkada 2020 di TPS 25, Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu 9 Desember 2020  -  Twitter
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi putranya Ali Mannagalli menggunakan hak pilihnya pada Pilkada 2020 di TPS 25, Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu 9 Desember 2020 - Twitter

Bisnis.com, JAKARTA – Gerakan Golput atau golongan putih kembali menyeruak di tengah Pilkada 2020 hari ini, Rabu (9/12/2020).

Para netizen umumnya mengajak untuk 100 juta lebih pemilih yang terdaftar dalam pemilihan kepala daerah hari ini menyalurkan hak suaranya. Lainnya menyuarakan bahwa Golput adalah hak karena sosok yang ditawarkan tidak membawa janji manfaar bagi pemilihnya.

Namun, bagaimanakan gerakan ini muncul pertama kali di tanah air. Berdasarkan arsip tempo.co, Akademisi dan Sosilog Ariel Heryanto menceritakan, istilah golput muncul jelang Pemilu pada Juli 1971.

"Gerakan itu dirintis anak-anak muda yang ikut mendirikan Orde Baru, setelah membantu tentara menjatuhkan pemerintahan demokrasi terpimpin Soekarno," tulis dia melalui pesan surel kepada Tempo.

Dalam Pemilu 1971, masyarakat diminta memilih antara Partai Katolik, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Nahdlatul Ulama, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Partai Nasional Indonesia (PNI), Persatuan Tarbiah Islamiah (Perti), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan Golongan Karya (Golkar).

Dalam pemilu ini, Golkar pertama kali ikut sebagai peserta Pemilu.

Para aktivis pendiri Orde Baru itu menilai cara Soeharto dalam jargon Orde Baru dinilai penuh tipu daya dan ingin melanggengkan kuasanya melalui legitimasi Pemilu. Untuk itu, kelompok ini melahirkan logo segilima sebagai simbol Golput.

Penamaan Golput sendiri karena kampanye yang dilakukan adalah datang ke TPS dan menusuk bagian putih di luar kotak suara. Atau melakukan perusakan surat suara secara sengaja untuk menegaskan rendahnya keabsahan pemilu karena surat suara rusak diperhitungkan.

"Menurut mereka, politik golput ini berbeda dari sikap pasif, yang tidak datang ke kotak suara dan tidak ikut pemilu sama sekali," kata Ariel.

Istilah Golput resmi tertulis dalam goresan pemikiran mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Kebayoran bernama Imam Walujo Sumali di majalah Tempo. Disebutkan Imam menulis artikel berjudul Partai Kesebelas untuk Generasi Muda.

Tulisan ini lahir setelah beberapa diskusi dengan tokoh-tokoh parpol dan Golkar. Intinya, untuk memunculkan gagasan partai kesebelas, selain sembilan parpol dan satu Golkar yang bertarung dalam Pemilu 1971.

Gerakan ini kemudian membesar. Beberapa tokohnya adalah: Arief Budiman, Imam Walujo, Husin Umar, Marsilam Simandjuntak, Asmara Nababan, dan Julius Usman. Mereka menamakan diri kelompok opisisi mulai bergerak.

Partai Putih yang tanpa tanda gambar lalu bertransformasi menjadi golongan putih yang memiliki simbol gambar segilima hitam di atas dasar putih polos.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

golput Pilkada 2020

Sumber : Tempo

Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top