Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hampir Mustahil Disepakati Sebelum Pilpres AS, Nasib Stimulus Fiskal Masih Menggantung

Nasib besaran stimulus fiskal AS tergantung bagaimana hasil pilpres dan pemilihan anggota senat tanggal 3 November 2020 nanti.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  19:02 WIB
Joe Biden dan Donald Trump bersaing keras meraup suara terbanyak di Pilpres AS 2020. - Istimewa
Joe Biden dan Donald Trump bersaing keras meraup suara terbanyak di Pilpres AS 2020. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Para Senator Amerika Serikat meniggalkan Capitol sebelum pemilihan presiden pekan depan, 3 November 2020. Hal ini semakin memperkecil kemungkinan disepakatinya paket stimulus fiskal sebelum pilpres.

“Kami akan kembali pada bulan November. Pertanyaannya adalah, apakah akan ada sesuatu?” ungkap Ketua bidang Alokasi Senat Richard Shelby, seperti dikutip Bloomberg, Senin (26/10/2020).

Ia menambahkan, kemungkinan disepakatinya RUU stimulus fiskal bantuan virus corona sebelum 3 November sangat kecil.

Kepergian Senat setelah pemungutan suara untuk mengangkat Amy Coney Barrett sebagai Hakim Agung AS semakin membuat jurang perbedaan pendapat antara Ketua DPR Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin semakin melebar.

Setelah perundingan keduanya pada hari Senin, kedua belah pihak tetap teguh pada pendiriannya masing-masing. Pemerintahan Trump mengusulkan stimulus senilai US$1,9 triliun, namun Partai Demokrat mengusulkan US$2,4 triliun.

Kegagalan mencapai kesepakatan akan menimbulkan dampak negatif terhadap kemanusiaan dan ekonomi serta politik. Virus corona masih terus mencengkram sebagian besar negara bagian AS dengan jumlah kasus harian yang terus mencapai rekor tertinggi, sedangkan perekonomian semakin terpuruk.

Kenyataan bahwa stimulus fiskal terbaru harus menunggu pilpres berlangsung menyebabkan aksi jual terburuk sejak awal September pada bursa saham AS Senin kemarin.

Kedua belah pihak memiliki motif agar negosiasi tetap berjalan, karena mundur dari perundingan hanya akan mengundang reaksi negatif dari para pemilih karena akan dianggap memupuskan harapan untuk bantuan stimulus

"Ketua DPR tetap optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai sebelum pemilihan," ungkap juru bicara Pelosi Drew Hammill di Twitter pada Senin setelah pembicaraan antara kedua negosiator.

Cuitan Hammill tersebut menunjukkan kedua belah pihak masih tidak menyetujui program pengujian dan pelacakan virus corona dalam skala nasional, hampir dua pekan setelah Mnuchin mengatakan bahwa pemerintah tidak akan menyepakati poin tersebut.

Dampak terhadap Pasar

Bahkan jika akhirnya Pelosi dan Mnuchin bisa mencapai kesepakatan, hampir mustahil bisa menyelesaikan proses RUU tersebut melalui prosedur di DPR dan Senat sebelum hari pemilihan.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa kendali atas Senat dan Gedung Putih setelah pemilihan umum 3 November akan sangat berpengaruh dalam proses stimulus, sehingga memperumit prospek kesepakatan pascapemilihan.

Kemenangan Presiden Donald Trump dan berlanjutnya kendali Partai Republik atas Senat kemungkinan akan menghasilkan paket stimulus yang lebih kecil daripada yang tengah diupayakan Pelosi.

Skenario Pemilu

Sementara itu, kemenangan Joe Biden dalam pilpres dan dominasi partai Demokrat di Senat akan membuka jalan bagi stimulus yang besar, meskipun pemungutan suara juga dapat tertunda hingga 2021 jika Partai Republik menolak di saat-saat terakhir masa jabatan mereka di Senat.

Sementara itu, hasil pemilu yang berbeda antara pemilihan presiden dan dominasi di Senat dapat menimbulkan persoalan jauh lebih pelik. Tetapi untuk sementara sebelum Kongres baru menjabat, Partai Republik harus mencari 13 kursi dari jajaran Senat mereka untuk bergabung dengan Demokrat dalam menyetujui kesepakatan.

Senator John Thune dari South Dakota, pemimpin nomor 2 di majelis tersebut dari partai Republik, mengatakan kepada wartawan di Capitol bahwa jika Demokrat menang di pemilu, mereka dapat memilih untuk mempertahankan stimulus yang lebih kecil dan kembali lagi dengan stimulus yang lebih besar di tahun baru.

"Jika tidak, dan kami masih menjadi mayoritas, maka saya percaya akan ada lebih banyak minat untuk mencoba mencapai kesepakatan. Ada banyak hal yang kita semua dapat sepakati, namun saya tidak tahu mengapa kita tidak bisa melakukannya,” ungkap Thune.

Ketika Trump pada awal Oktober menyerukan penghentian pembicaraan stimulus di Twitter, sikapnya kemudian berubah 180 derajat setelah pasar saham AS merosot. Selain itu, Pelosi telah menghadapi tekanan internal dari Demokrat untuk berkompromi dengan Gedung Putih.

"Stimulus tambahan bukanlah masalah disepakati atau tidak, tetapi kapan (akan disepakati)," ungkap tim analis pasar Barclays Plc, termasuk Juan Prada.

 “Hasil pemilu AS dan komposisi Kongres baru akan membuat pasar untuk memiliki penilaian yang lebih baik tentang potensi dorongan fiskal,” lanjut mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stimulus as Pilpres as 2020
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top