Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sumpah Kreatif James Cameron Bukan Demi Uang

Bergulat dengan kesulitan, risiko, dan aktivitas sulit yang melibatkan elemen atau penemuan baru diketahui dapat memicu kapasitas seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang dahsyat.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 18 Oktober 2020  |  15:18 WIB
Sebuah surat yang ditulis pada 13 April 1912 dan ditemukan dari tubuh Alexander Oskar Holverson, seorang korban Titanic, di London, Inggris pada tanggal 20 Oktober 2017.  - Reuters
Sebuah surat yang ditulis pada 13 April 1912 dan ditemukan dari tubuh Alexander Oskar Holverson, seorang korban Titanic, di London, Inggris pada tanggal 20 Oktober 2017. - Reuters

Bisnis.com,  JAKARTA – “Satu-satunya teritori yang belum diketahui banyak orang di film sebelumnya tentang tenggelamnya kapal Titanic ini adalah masalah hati. Aku ingin para penonton menangisi Titanic.”

Keputusan James Cameron, sang sutradara, sungguh jitu dan akhirnya mencetak sejarah dalam dunia perfilman. Film epik, roman, dan bencana produksi 1997 itu meraih 14 nominasi dalam ajang Academy Awards tahun berikutnya, dan berhasil menyabet 11 di antaranya. Termasuk untuk kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Titanic juga dinobatkan sebagai film terlaris (blockbuster) sepanjang masa selama 12 tahun dan baru pada awal 2010 film tersebut tumbang oleh karya tangan dingin Cameron lainnya yang berjudul Avatar.  

Dunia kreatif perfilman Hollywood ini menjadi contoh kasus yang diulas cukup dalam  oleh Ng Aik Kwang, dalam Why Asians Are Less Creative than Westerners (2001). Pasalnya, Kwang, yang juga seorang pakar kreativitas, menemukan ‘sesuatu yang tidak biasa’ dalam diri Cameron.

Bila dicermati, tantangan terbesar dari pembuatan Titanic bukan pada ekspedisi penyelaman laut dalam. Bukan pula pada konstruksi replika yang berukuran sama besar dengan kapal pesiar mewah tersebut, atau konstruksi bagian interiornya yang glamor.

Justru tantangan terbesarnya adalah pada sebuah kenyataan yang luar biasa sulit untuk membuat film mengenai kisah yang sudah begitu terkenal dan sering menjadi bahan riset itu.

Coba, apa yang bisa Anda katakan mengenai Titanic yang belum pernah diceritakan sebelumnya?  Tapi jawaban Cameron sungguh jitu: “Masalah hati”.

Titanic adalah reka ulang yang sangat realistis dari saat terakhir kapal pesiar mewah yang disebut-sebut tidak akan tenggelam ini. Gambaran dari passion dan dedikasi sang penulis skenario sekaligus sutradara setelah bertahun-tahun, tak diragukan lagi bahwa ini adalah ambisi paling luar biasa dari pembuat film hebat yang pernah ada.

Apa bedanya Cameron dengan sutradara hebat atau maestro di dunia perfilman lainnya? Ada satu hal yang teramat langka.

Sang sutradara sudah bersumpah tidak akan membuat Titanic jika tidak berhasil menyelam sampai ke rongsokan kapal itu sendiri dan membuat rekamannya sendiri untuk digunakannya di film.

Untuk itu dia harus memenuhi sumpahnya dengan melakukan ekspedisi bawah laut pertama di dunia dalam sejarah Hollywood.

Passion ini yang membuat Kwang terbelalak. Mengapa individu kreatif pada ranah yang berbeda begitu mencurahkan banyak waktu pada pekerjaan mereka.

Mengutip Csikszentmihalyi yang menyoal psikologi Flow, mereka termotivasi bukan dengan harapan untuk meraih ketenaran atau menghasilkan uang—seperti keterlibatan ego—melainkan karena mereka menikmati apa yang mereka kerjakan seperti halnya keterlibatan tugas.

Esensinya adalah perasaan menikmati tidak muncul ketika mereka bersantai, menggunakan obat-obatan terlarang atau alkohol atau saat mengumbar harta kekayaan.

“Rasa menikmati itu muncul ketika mereka bergulat dengan kesulitan, risiko, dan aktivitas sulit yang melibatkan elemen atau penemuan baru dan memicu kapasitas mereka,” papar Kwang.

Dunia kreatif memang  maha luas ‘tak terbatas’. Thomas Alva Edison melakukan tak kurang dari 1.800 cara untuk menyalakan sebuah bola lampu sebelum menemukan bahwa tungsten dapat berfungsi sebagai kawat pijar.

Ilmuwan Jerman Werner von Braun lebih ‘gila’ lagi sebelum berhasil mengembangkan roket yang digunakan negara itu untuk mengebom London selama Perang Dunia II.

Atasannya menganggap bahwa Braun telah gagal lebih dari 65.000 kali dalam mengembangkan roket semacam itu. Lalu dia diultimatum oleh sang bos, berapa lama lagi waktu yang dibutukan?

Dengan enteng Braun menjawab bahwa dirinya perlu gagal beberapa ribu kali lagi. Akhirnya, buah ketekunan terbayar dalam bentuk misil balistik yang digunakan Jerman untuk menyerang musuhnya.

Di era new normal yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, seperti apa kreativitas Anda? Di jalur yang mirip James Cameron, Edison atau bahkan von Braun?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

james cameron titanic film hollywood
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top