Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Enggan Bersaing, Zoom Pilih Berpartner dengan Slack dan Microsoft

CEO Zoom menegaskan perusahaan tidak tertarik mengejar Slack dan Microsoft Teams. Pelanggan puas dengan sisi obrolan Zoom saat ini selama konferensi video.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  06:39 WIB
CEO Zoom, Eric Yuan
CEO Zoom, Eric Yuan

Bisnis.com, JAKARTA - Chief Executive Officer Zoom Video Communications Inc. Eric Yuan menegaskan perusahaan akan mengintegrasikan produk ruang obrolan kantor dari Slack Technologies Inc. dan Microsoft Corp. ke dalam aplikasi Zoom.

Menurutnya, kerja sama lebih baik daripada persaingan untuk pertumbuhan pembuat perangkat lunak.

"Chat [obrolan] adalah fungsi yang sangat penting untuk penggunaan kami secara keseluruhan," kata Yuan, Rabu (15/10/2020).

“Prioritas intinya adalah bagaimana meningkatkan integrasi antara obrolan, video, dan suara.”

Pelanggan puas dengan sisi obrolan Zoom saat ini selama konferensi video dan perusahaan tidak tertarik mengejar Slack dan Microsoft Teams dengan mempelajari pasar lebih jauh.

"Kami sangat berintegrasi dengan Slack, dengan Teams," kata Yuan.

“Kami memberikan fleksibilitas kepada pelanggan. Kami memilih pendekatan yang berpikiran terbuka. Kami tidak mengatakan kami ingin membangun obrolan kami sendiri untuk bersaing dengan orang lain. Saya rasa kami tidak membutuhkannya, karena video dan suara, itulah fokus kami."

Saham Slack naik ke sesi tertinggi US$33,27 pada 3:51 p.m. di New York setelah berita bahwa Zoom tidak menimbulkan ancaman persaingan. Saham ini ditutup pada US$32,73.

Saham Zoom, yang telah melonjak lebih dari tujuh kali lipat tahun ini, turun 1,8 persen menjadi US$509,25.

Sebelumnya, Zoom meluncurkan serangkaian produk dan inisiatif baru untuk pengguna Zoomtopia dalam upaya mempertahankan pertumbuhan pendapatan eksplosifnya selama enam bulan terakhir selama pandemi virus Corona.

Perusahaan menempatkan dirinya sebagai platform integral dalam ekonomi digital, di pusat alur kerja perusahaan, dan hub bagi pengguna yang ingin mengadakan acara gratis, berbayar, atau amal sementara orang-orang tetap berada dalam jarak sosial selama pandemi ini.

Zoom menargetkan margin operasi jangka panjang yang disesuaikan sebesar 25 persen dari pendapatan, dan margin kotor 80 persen dari pendapatan.

Di bawah kerangka ini, perusahaan akan membelanjakan 10 persen hingga 12 persen pendapatan untuk penelitian dan pengembangan dan 30 persen hingga 35 persen untuk penjualan dan pemasaran. Adapun, Zoom Video Communications tidak menentukan kerangka waktu untuk tujuan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

microsoft Zoom Video Communications

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top