Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Skenario Pilpres AS jika Trump Absen akibat Covid-19?

Karena Amerika Serikat menganut sistem suara populer, presiden dipilih oleh mayoritas mutlak dari 538 anggota Electoral College.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 04 Oktober 2020  |  10:26 WIB
 Presiden AS Donald Trump berbicara selama acara di Fincantieri Marinette Marine di Wisconsin, Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2020). (Thomas Werner - Bloomberg)\n
Presiden AS Donald Trump berbicara selama acara di Fincantieri Marinette Marine di Wisconsin, Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2020). (Thomas Werner - Bloomberg)\\n

Bisnis.com, JAKARTA — Belum pernah ada sejarahnya seorang calon presiden AS yang tengah berkampanye tiba-tiba keluar untuk sementara dari arena pertarungan politik hanya beberapa pekan menjelang pemungutan suara kecuali yang dilakukan Donald Trump.

Bagaimana tidak. Hanya tinggal sebulan lagi pilpres akan digelar, sang petahana capres harus menjalani rawat inap karena terpapar wabah Covid-19.

Hal itulah yang menimbulkan pertanyaan tentang apa yang terjadi jika peristiwa seperti itu terjadi. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan seorang kandidat meninggal dunia sebelum proses pilpres selesai. Inilah persoalan yang lebih pelik.

Saat ini Trump berusia 74 tahun, sedangkan lawannya Joe Biden dilaporkan dalam kondisi kesehatan yang relatif baik pada usia 77 tahun. Dia juga tercatat sebagai capres Partai Demokrat tertua yang pernah ada.

Berikut ini sekilas beberapa skenario potensial jika seorang kandidat keluar dari arena perlombaan:

Dapatkah Menunda pilpres?

Baik Senat yang dikendalikan Republik maupun Dewan Perwakilan Rakyat yang mayoritas Demokrat harus menyetujui penundaan.

"Saya tidak melihat itu terjadi," kata Capri Cafaro, mantan anggota Partai Demokrat dari Senat negara bagian Ohio yang mengajar di American University seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Minggu (4/10/2020).

Dia beralasan bahwa tidak mungkin mayoritas Demokrat ingin menunda pemilihan. Bahkan, selama Perang Saudara antara Utara dan Selatan, pemilu tahun 1864 diadakan sesuai jadwal dengan Abraham Lincoln memenangi masa jabatan berikutnya.

Bisakah calon diganti?

Partai Republik truf dan Partai Demokrat Biden sama-sama memiliki aturan yang menguraikan bagaimana mengisi kekosongan di tiket presiden jika ada.

Dalam kasus Trump dari Partai Republik, sebanyak 168 anggota Komite Nasional Republik (Republican National Committee) dapat memberi suara untuk memilih penggantinya.

RNC juga dapat mengadakan kembali konvensi nasionalnya yang terdiri lebih dari 2.500 delegasi untuk memilih calon baru, tetapi hanya saja tekanan waktu mungkin membuat hal ini tidak dapat dilaksanakan.

Mayoritas sederhana akan menjadi satu-satunya yang dibutuhkan untuk memilih kandidat baru dalam skenario mana pun.

Dalam kasus Demokrat, calon presiden baru akan dipilih oleh hampir 450 anggota Komite Nasional Demokrat.

Bisakah kandidat Diganti di kertas suara?

Mungkin tidak. “Masalahnya pada saat ini adalah bahwa dalam pemilu 2020 sejauh ini tidak hanya ada sebagian pemilih yang telah memberi suara, tetapi surat suara sudah dicetak,” kata Cafaro.

"Anda benar-benar tidak punya cukup waktu untuk mencetak ulang surat suara yang bertuliskan Mike Pence atau Kamala Harris," katanya, merujuk tiap-tiap calon wakil presiden dari Partai Republik dan Demokrat.

Lebih dari 3,1 juta orang AS telah memberi suara mereka, menurut penghitungan yang disimpan oleh Proyek Pemilu AS di Universitas Florida.

Selain itu, tenggat untuk akses surat suara bervariasi dari satu negara bagian ke negara bagian lain dan dalam banyak kasus tenggat waktunya sudah lewat.

Bagaimana dengan kelanjutan pilpres?

Karena Amerika Serikat menganut sistem suara populer, presiden dipilih oleh mayoritas mutlak dari 538 anggota Electoral College.

Di setiap negara bagian kecuali dua (Nebraska dan Maine), kandidat yang memenangkan mayoritas suara di negara bagian itu memenangkan semua pemilih di negara bagian itu.

Tidak ada dalam Konstitusi yang mewajibkan pemilih untuk memberi suara dengan satu atau lain cara kecuali Mahkamah Agung memutuskan pada Juli bahwa negara bagian dapat dihukum  dngan apa yang disebut "pemilih yang tidak setia" yang tidak menghormati suara rakyat.

Anggota Electoral College akan berkumpul di negara bagian masing-masing pada 14 Desember dan memberi suara untuk presiden dan wakil presiden.

Jika seorang kandidat meninggal atau mundur sebelum Electoral College memberi suaranya maka semuanya bisa menjadi kacau.

Undang-undang negara bagian masing-masing tetap berlaku, tetapi partai secara teoritis dapat mengarahkan pemilihnya untuk memilih calon pengganti, sedangkan pada 6 Januari 2021 Kongres akan mengesahkan hasilnya dan pemenang dilantik sebagai presiden pada 20 Januari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilpres AS
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top