Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perang Armenia-Azerbaijan, Korban Tewas Sudah Capai 95 Orang

Jumlah total warga sipil yang tewas telah meningkat menjadi 11 orang dari sembilan di Azerbaijan dan dua di Armenia.
Peta konflik Armenia-Azerbaijan/Bloomberg-International Crisis Group
Peta konflik Armenia-Azerbaijan/Bloomberg-International Crisis Group

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah korban tewas dari kalangan prajurit dan rakyat sipil mencapai sedikitnya 95 orang memasuki hari kedua perang antara Armenia dan Azerbaijan di basis pertempuran wilayah Nagorno-Karabakh.

Hingga hari ini, setidaknya 26 tentara tewas dalam bentrokan antara kedua pasukan di wilayah Nagorno-Karabakh yang memisahkan diri, menurut kementerian pertahanannya. Jumlah itu menjadikan korban tewas militer mereka menjadi 84 orang dalam putaran pertempuran paling sengit sejak lebih dari seperempat abad.

Al Jazeera melaporkan bahwa pada hari ini jumlah total warga sipil yang tewas telah meningkat menjadi 11 orang dari sembilan di Azerbaijan dan dua di Armenia. Dengan demikian total korban tewas secara keseluruhan telah mencapai 95 orang seperti dikutip Aljazeera.com, Selasa (29/9/2020).

Para pemimpin dunia telah mendesak penghentian pertempuran setelah eskalasi perang terburuk sejak 2016 meningkatkan momok perang lain antara kedua negara bekas Uni Soviet yang berkonflik itu.

Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pembicaraan darurat secara tertutup pada hari ini setelah Prancis dan Jerman mendorong agar masalah tersebut ditempatkan dalam agenda rapat.

Armenia dan Azerbaijan telah terlibat dalam sengketa wilayah sejak tahun 1990-an ketika Karabakh, daerah kantong etnis Armenia di Azerbaijan, mendeklarasikan kemerdekaan setelah perang yang menewaskan sekitar 30.000 orang.

Kemerdekaan Nagorno-Karabakh tidak diakui oleh negara mana pun, dan tetap dianggap sebagai bagian dari Azerbaijan oleh komunitas internasional.

Azerbaijan belum merilis informasi tentang korban militer sejak pertempuran terakhir meletus.

Pertempuran antara kedua negara dapat mengguncang wilayah yang lebih luas dan melibatkan negara lain termasuk Rusia dan Turki. Rusia, yang memiliki aliansi militer dengan Armenia, menjual senjata canggih senilai miliaran dolar ke Baku dan Yerevan.

Armenia menuduh Turki, yang mendukung Azerbaijan, ikut campur dalam konflik tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Armenia Anna Naghdalyan mengatakan para ahli militer Turki bertempur bersama Azerbaijan, dan Turki telah menyediakan drone dan pesawat tempur.

Namun, Azerbaijan membantah tuduhan itu, sedangkan Turki menyerukan diakhirinya pertempuran.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper