Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tanpa China dan AS, Inisiatif Vaksin Global Terus Bergulir

Program bertajuk Covid-19 Vaccine Global Access (Covax) ini bernilai US$18 miliar dan diinisiasi oleh aliansi vaksin Gavi serta didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI).
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 22 September 2020  |  10:46 WIB
Ilustrasi vaksin virus corona - istimewa
Ilustrasi vaksin virus corona - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Inisiatif vaksin global senilai US$18 miliar terus bergulir dengan total 156 negara telah terdaftar. Amerika Serikat menyatakan tak akan ambil bagian, sedangkan China sejauh ini masih mempertimbangkan keikutsertaannya.

Program bertajuk Covid-19 Vaccine Global Access (Covax) ini bernilai US$18 miliar dan diinisiasi oleh aliansi vaksin Gavi serta didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI).

Sasarannya yakni menyediakan 2 miliar dosis pada akhir 2021 dan pada awalnya akan berfokus pada tenaga kesehatan, masyarakat berisiko tinggi, dan mendistribusikan dosis pada sebanyak 20 persen dari populasi negara yang berpartisipasi. Daya beli kolektif ini akan digunakan untuk menegosiasikan harga yang kompetitif dari produsen.

"Dengan komitmen yang kami umumkan hari ini untuk Fasilitas Covax, serta kemitraan bersejarah yang kami bangun dengan industri, kini kami memiliki peluang yang jauh lebih baik untuk mengakhiri fase akut pandemi ini setelah vaksin yang aman dan efektif tersedia," kata Seth Berkley, CEO Gavi, dalam keterangannya, Selasa (22/9/2020).

Gavi juga menjelaskan, dari 156 negara yang telah bergabung, 64 diantaranya merupakan negara ekonomi maju, termasuk Uni Eropa yang mewakili 27 anggotanya ditambah Norwegia dan Islandia. Adapun 94 lainnya merupakan negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Program tersebut juga menawarkan fasilitas bagi negara-negara miskin yang tidak mampu membeli vaksin, serta sejumlah negara berpenghasilan tinggi yang tidak memiliki kesepakatan pasokan dengan produsen.

Selain itu, 156 negara tersebut mewakili 64 persen dari populasi dunia. Sebanyak 38 negara disebutkan telah siap mendaftar dalam waktu dekat.

AS dan dan China sejauh ini belum tercatat dalam program ini. Presiden Trump sebelumnya menyatakan tak akan bergabung dalam upaya yang melibatkan WHO yang ditudingnya China-sentris.

Namun, diskusi dengan Beijing masih terus berlanjut. Sejauh ini China masih fokus pada kesepakatan bilateral mengenai dosis vaksin dengan negara sahabat seiring AS yang mendorong sekutunya untuk menghapus perangkat Beijing dari jaringan 5G.

Mendaftar ke Covax dipandang sebagai cara yang mungkin bagi China untuk membantu memperbaiki citranya di mata dunia tentang upaya menangani pandemi dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS di WHO.

Dilansir Bloomberg, meskipun pemerintahan Trump menolak untuk bergabung dengan Covax, pejabat dari Gavi dan CEPI telah mencatat bahwa AS menginvestasikan dana besar untuk memacu penelitian, pengembangan, dan pembuatan vaksin Covid-19 potensial yang dapat berdampak global.

Dalam program yang lebih luas terdapat rencana untuk memastikan belasan negara berpenghasilan menengah dan rendah yang tidak mampu sepenuhnya membeli vaksin, mendapatkan dosis pada saat yang sama dengan negara-negara kaya.

Gavi mengatakan 92 negara berpenghasilan rendah dan menengah memenuhi syarat untuk mendapatkan dukungan melalui komitmen yang mengumpulkan sekitar US$700 juta dari target US$2 miliar yang dibutuhkan pada akhir tahun. Secara substansial lebih banyak dana akan dibutuhkan tahun depan untuk membeli dosis bagi negara-negara tersebut.

"Ini adalah waktu yang sulit untuk pembiayaan yang berdampak pada ekonomi global. Saya optimistis dengan hati-hati, tetapi ini akan menjadi peningkatan besar," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat Vaksin Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top