Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19 Seret Bisnis Pendidikan ke Jurang Krisis

CFO Stella Maris Group Pierre Sanjaya mengatakan bahwa krisis akibat pandemi Covid-19 cukup dahsyat.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 15 September 2020  |  11:45 WIB
Siswa Sekolah Dasar didampingi orang tua melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring pada hari pertama tahun ajaran baru 2020-2021 di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (13/7/2020). Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Pendidikan menginstruksikan sekolah untuk melakukan sistem PJJ di awal tahun ajaran baru hingga September mendatang sebagai antisipasi penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. ANTARA FOTO - Feny Selly
Siswa Sekolah Dasar didampingi orang tua melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem daring pada hari pertama tahun ajaran baru 2020-2021 di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (13/7/2020). Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Pendidikan menginstruksikan sekolah untuk melakukan sistem PJJ di awal tahun ajaran baru hingga September mendatang sebagai antisipasi penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. ANTARA FOTO - Feny Selly

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah dilanda pandemi Covid-19 selama enam bulan terakhir, perekonomian ikut terseret ke arah krisis lantaran semua bidang usaha harus berhenti beroperasi. Namun, saat ini tak terkecuali bisnis pendidikan ikut terdampak.

CFO Stella Maris Group Pierre Sanjaya mengatakan bahwa krisis akibat pandemi Covid-19 cukup dahsyat.

Pada krisis ekonomi yang terjadi sebelumnya, pendidikan tak pernah terpengaruh, karena selalu dibutuhkan. Namun, sekarang sekolah harus ikutan tutup dan beradaptasi dengan belajar di rumah.

“Dalam 25 tahun kami beroperasi, baru kali ini bisnis pendidikan masuk ke dalam krisis. Kendala dalam pandemi banyak, dari orang tua murid, muridnya sendiri, guru, dan kendala perangkat yang digunakan,” kata dia, Selasa (15/9/2020).

Kendala yang dirasakan adalah bahwa sekarang orangtua harus meluangkan waktu khusus untuk membimbing anak-anak, padahal pekerjaan juga tetap ada dan harus diselesaikan.

Kemudian, guru juga harus belajar ekstra soal penggunaan teknologi untuk tetap bisa melaksanakan proses belajar mengajar, perangkat juga harus disiapkan, padahal tidak semua guru memiliki perangkat dan tidak semua guru rumahnya siap untuk jadi area belajar.

Sementara itu, murid lebih senang belajar di sekolah, berinteraksi dengan teman, bermain, olahraga, dan seterusnya. Ini terpaksa hilang dari anak-anak.

“Kalau masalah perangkat, sekarang sudah dapat subsidi kuota. Kita harapkan memang kuota tidak menjadi kendala lagi di pemerintah, karena sebelumnya internet putus nyambung sehingga jadi kendala dalam pelajar. Belum lagi kalau di rumah ada 2 atau 3 anak dan harus belajar bersamaan daring dari rumah, itu juga akan jadi kendala,” jelasnya.

Menurutnya, menghadapi pandemi ini seluruh lini usaha harus melakukan inovasi dan beradaptasi, tak terkecuali bisnis pendidikan, misalnya dengan melakukan transformasi digital.

“Misalnya perusahaan dengan membuat aplikasi baru yang mengakomodir kebutuhan konsumen. Kalau di Stella Maris buat aplikasi akubisa.net yang bisa diakses orangtua dan murid untuk mendapat materi atau modul nelajra mandiri di rumah,” jelasnya.

Pierre menyebut perusahaan butuh mindset baru dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat untuk menjalani kehidupan di era normal baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belajar pembelajaran online covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top