Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Presiden Lukashenko Minta Bantuan Putin untuk Redam Aksi Protes

Lukashenko tiba di Sochi untuk bertemu Putin kemarin ketika aksi protes terus berlanjut di seluruh Belarusia.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 15 September 2020  |  06:22 WIB
Alexander Lukashenko. - Antara
Alexander Lukashenko. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Rusia menyetujui pinjaman sebesar US$1,5 miliar dan krisis Belarusia harus diselesaikan tanpa campur tangan asing, ujar Presiden Rusia, Vladimir Putin setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Alexander Lukashenko kemarin.

Putin, dalam komentar yang disiarkan di televisi usai pembicaraan di Sochi, Rusia, mengatakan proposal Lukashenko untuk melaksanakan reformasi konstitusi adalah logis dan tepat waktu.

Lukashenko tiba di Sochi untuk bertemu Putin kemarin ketika aksi protes terus berlanjut di seluruh Belarusia untuk menuntut diakhirinya pemerintahannya setelah pemilihan 9 Agustus yang disengketakan.

Pesawatnya mendarat di wilayah Laut Hitam sehari setelah polisi menangkap 774 orang pelaku aksi unjuk rasa anti-pemerintah di seluruh negeri, termasuk 500 orang di ibu kota, Minsk, kata kementerian dalam negeri Belarusia sperti dikutip Aljazeera.com, Selasa (15/9/2020).

Setidaknya 100.000 pengunjuk rasa membanjiri jalan-jalan Minsk pada Minggu (13/9/2020).

Pada pertemuan tersebut Lukashenko menyampaikan terima kasih kepada Putin atas dukungannya sekaligus menandai pembicaraan tatap muka pertama antara para pemimpin sejak pemilihan umum di Belarusia yang menjadi sengketa.

Putin memberi selamat kepada Lukashenko atas kemenangannya saat itu, tetapi kemudian menggambarkan pemungutan suara itu tidak ideal.

Tindakan presiden Rusia sejauh ini menunjukkan bahwa dia tidak memiliki keinginan untuk melihat pemimpin negara tetangga bekas Soviet digulingkan oleh tekanan aksi jalanan. Lukashenko pun sering terbukti sebagai sekutu yang kuat bagi Rusia.

Aksi protes, yang beberapa kali menampilkan kekerasan, telah mencengkeram negara itu selama lima minggu sejak pemungutan suara. Sejumlah plakat anti-Kremlin terlihat di beberapa aksi unjuk rasa.

"Saya khawatir tentang niat Rusia untuk menegakkan kepentingannya di sini. Kami harus berteman dengan Rusia, tetapi tidak baik bagi negara-negara tetangga untuk terlibat dalam masalah internal kami," kata seorang pengunjuk rasa pada aksi tersebut.

Katsiaryna Shmatsina dari Institut Studi Strategis Belarusia mengatakan kepada Al Jazeera: "Lukashenko bulan ini telah menghabiskan semua alat yang dia gunakan untuk melakukan penindasan berskala besar terhadap pelaku aksi protes. Mereka dipukuli dan ditahan, namun kali ini tidak berhasil."

Dewan Hak Asasi Manusia PBB setuju menjadi tuan rumah untuk pembicaraan soal laporan kekerasan pihak berwenang selama aksi protes.

Lukashenko, 65, mengatakan dalam satu wawancara televisi bahwa jika pemerintahannya jatuh maka Rusia akan menjadi yang berikutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vladimir putin belarusia
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top