Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Pandemi, Terbang di Kelas Bisnis Kini Serasa Ekonomi

Hilang sudah jamuan makan khusus dan layanan hangat yang pernah menjadi keunggulan maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines Ltd. dan Cathay Pacific Airways Ltd.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 September 2020  |  16:14 WIB
Ilustrasi kabin pesawat
Ilustrasi kabin pesawat

Bisnis.com, JAKARTA - Gara-gara pandemi, terbang dengan pesawat kelas bisnis kini tak lagi sama. Tidak ada lagi hidangan istimewa lengkap dengan kotktail serta aneka pencuci mulut selama penerbangan. 

Upaya untuk meminimalkan interaksi manusia dan mengurangi risiko infeksi Covid-19 menghilangkan sejumlah fasilitas mahal di dalam pesawat komersial.

Hilang sudah jamuan makan khusus dan layanan hangat yang pernah menjadi keunggulan maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines Ltd. dan Cathay Pacific Airways Ltd.

Saat ini, yang tersisa dari perjalanan kelas premium adalah fungsional, higienis, dan hampir mirip dengan kursi kelas ekonomi tetapi dengan ruang yang lebih leluasa.

"Tidak ada yang membantu membawakan tas Anda. Anda tidak diantar ke tempat duduk dan jelas tidak ada sampanye sebelum penerbangan. Rasanya seperti duduk di kelas ekonomi," kata Sandra Lim, yang terbang dengan kelas bisnis dari Los Angeles ke Singapura dengan Singapore Air akhir bulan lalu, dilansir Bloomberg.

Lim melanjutkan, awak pesawat melayani dengan masker dan pelindung wajah. Kontak fisik dengan penumpang juga diupayakan minimal. Lim dapat memesan makanan dan minuman, tetapi ada biaya ekstra untuk itu.

Beberapa rute internasional kini mulai dibuka kembali, tetapi lalu lintas di seluruh dunia justru mengendur. Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA, ermintaan penumpang internasional turun 92 persen pada Juli.

Tidak jelas sejauh mana pasar premium yang menurut IATA menghasilkan 30 persen pendapatan internasional maskapai penerbangan pada 2019, dapat pulih. Banyak pebisnis yang menjadi terbiasa dengan konferensi video daripada melakukan kunjungan secara langsung. Resesi global yang menggerus pendapatan perusahaan juga menekan perjalanan internasional.

Chief Executive Officer Virgin Australia Holdings Ltd Paul Scurrah mengatakan perjalanan bisnis akan pulih lebih lambat secara keseluruhan karena beberapa perusahaan mempertahankan kebijakan kerja dari rumah. CEO Qantas Airways Ltd. Alan Joyce optimistis bahwa permintaan akan pulih sepenuhnya, tetapi paling tidak sampai 2023 atau 2024.

Analis UBS Group AG yang dipimpin oleh Jarrod Castle mengatakan dalam 21 Agustus melaporkan, maskapai berbiaya rendah seperti Ryanair Holdings Plc dan EasyJet Plc, yang sebagian besar melayani wisatawan jarak pendek, kemungkinan akan bangkit kembali lebih cepat daripada maskapai penerbangan dengan fokus internasional yang lebih besar.

Jeremy Clark, yang menjalankan JC Consulting yang berbasis di Malaysia mengatakan beberapa maskapai penerbangan akan memanfaatkan momentum pandemi untuk secara permanen menurunkan penawaran di kabin premium untuk menghemat uang. Itu berarti banyak pemasok yang bergantung pada maskapai penerbangan akan tutup.

Sampai kelak berbagai layanan di dalam kabin menjadi lebih aman untuk kembali disuguhkan, penumpang kelas bisnis dan kelas satu harus puas dengan fasilitas yang lebih hemat dan makanan sederhana.

Koki berbintang Michelin, Vineet Bhatia, yang telah bekerja dengan British Airways dan Qatar Airways selama hampir dua dekade mengatakan, penumpang tidak perlu khawatir tentang risiko infeksi dari makanan atau bahkan minuman di atas pesawat.

“Aspek keamanan harus sangat ditunjukkan. Penumpang ingin melihat kru menjaga jarak, menyapanya dengan pakaian tertutup, memberi makan di dalam kotak yang terbungkus. Terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi begitulah adanya," kata Bhatia.

Bahkan itu belum cukup bagi Graziela Guludjian, yang menempuh penerbangan lebih dari 12 jam ke Barcelona dari Singapura di kelas bisnis bulan lalu. Awak Singapore Air memberinya tas berisi masker wajah, pembersih tangan, dan tisu disinfektan.

"Saya tidak merasa nyaman. Saya tidak ingin terbang, tetapi saya tidak punya pilihan. Saya tidak ingin bepergian dalam waktu dekat,” kata Guludjian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maskapai penerbangan covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top