Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Tembak Rudal di Laut China Selatan, Pengamat: Itu Peringatan untuk AS

Rudal yang China diluncurkan ke perairan yang tengah diperebutkan tersebut termasuk roket DF-21D dan DF-26B.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Agustus 2020  |  12:51 WIB
Citra satelit pada Selasa 18 Agustus 2020 menunjukkan penampakan kapal selam China tengah memasuki pangkalan angkatan laut bawah tanah di Pulau Hainan di ujung selatan China. Foto: cnn.com
Citra satelit pada Selasa 18 Agustus 2020 menunjukkan penampakan kapal selam China tengah memasuki pangkalan angkatan laut bawah tanah di Pulau Hainan di ujung selatan China. Foto: cnn.com

Bisnis.com, JAKARTA -  Tembakan peluru kendali China ke perairan Laut China Selatan menjadi peringatan bagi dua target utama milik Amerika Serikat, yaitu kapal induk dan pangkalan regional yang berada di daerah tersebut.

Dilansir Bloomberg, rudal yang diluncurkan ke perairan yang tengah diperebutkan tersebut termasuk roket DF-21D dan DF-26B. Senjata-senjata tersebut menjadi alat penting dalam strategi China untuk mencegah tindakan militer di lepas pantai timur dengan mengancam akan menghancurkan sumber utama proyeksi kekuatan AS di wilayah tersebut.

"China memberi isyarat kepada AS, sekutu, dan mitranya bahwa Beijing memiliki jawaban atas kapal induk AS, jawaban tersebut selalu tersedia kapanpun," kata profesor tidak tetap program diplomasi dan ilmu militer Hawaii Pacific University Carl Schuster.

“Akibatnya, China mengatakan, 'Jika AS menempatkan dua kapal induk di Laut China Selatan, kami akan mengirim rudal pembunuh kapal induk ke sana,'” lanjut Schuster, yang juga mantan direktur operasi di Pusat Intelijen Bersama Komando Pasifik AS.

Peluncuran rudal tersebut menunjukkan kepada AS konsekuensi yang terus meningkat dari setiap konflik bersenjata. Pelunjuran tersebut juga mengingatkan perkembangan persenjataan rudal balistik jarak menengah dan menengah China.

Presiden Xi Jinping meluncurkan Pasukan Roket PLA baru sebagai bagian dari parade militer besar-besaran pada bulan Oktober tahun lalu, yang menunjukkan kemampuan yang menantang superioritas militer Amerika di Asia untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II.

Para peneliti di University of Sydney memperingatkan tahun lalu bahwa rudal China dapat menghancurkan pangkalan militer AS segera setelah ada konflik terbuka.

Sementara itu, seorang pejabat pertahanan AS yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Bloomberg bahwa China menembakkan empat rudal balistik jarak menengah selama serangkaian latihan militer pekan ini.

Rudal tersebut mendarat di laut antara Pulau Hainan selatan China dan rantai Paracel yang disengketakan di dekat Vietnam, tidak jauh dari lokasi AS melakukan latihan dalam beberapa pekan terakhir yang mendukung keputusan pemerintahan Trump untuk menantang klaim kedaulatan Beijing.

"Melakukan latihan militer di wilayah sengketa di Laut China Selatan merupakan hal yang kontraproduktif bagi meredanya dan menjaga stabilitas," kata Pentagon dalam sebuah pernyataan, Kamis. "Tindakan China, termasuk uji coba rudal, semakin mengacaukan situasi di Laut China Selatan".

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan China menegaskan kembali pernyataannya bahwa latihan itu tidak ditujukan pada satu negara pada hari Kamis. Namun, juru bicara kementerian Kolonel Senior Wu Qian menuduh beberapa politisi AS mencoba memprovokasi konflik antara kedua negara.

Pada hari Kamis, militer China menyatakan pihaknya mengusir kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut AS yang masuk tanpa izin ke perairan dekat Kepulauan Paracel. Mereka menyebut langkah itu sebagai tindakan "provokatif."

"Kami mendesak AS untuk menghentikan tindakan provokatif semacam ini, mengelola operasi militer laut dan udara, dan menahan pasukan garis depannya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan," kata juru bicara Komando Selatan tentara China, Li Huamin.

Uji coba rudal China tampaknya ditujukan untuk AS dan bukan untuk urusan dalam negeri. Awal pekan ini, China memprotes penerbangan pesawat mata-mata U-2 Amerika di dekat zona latihan di Laut China Timur. Mereka menduga pesawat tersebut bertujuan mendapatkan informasi intelijen tentang kemampuan negaranya.

“Bisa dibilang China mengirimkan peringatan ke AS, karena AS telah meningkatkan aktivitas militernya di Laut China Selatan,” ungkap ahli angkatan laut yang berbasis di Beijing, Li Jie.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat laut china selatan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top