Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Sentral Prancis: Pemulihan Ekonomi Eropa Tidak Akan Berbentuk Kurva V

Data dan indikator ekonomi pasca lockdown menunjukkan aktivitas melambat signifikan pada tingkat lebih rendah sebelum krisis. Hal itu pun tak urung meruntuhkan harapan akan rebound dengan kurva membentuk huruf V. 
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Agustus 2020  |  14:00 WIB
Nasabah mengantre di luar salah satu cabang La Banque Postal SA di Paris, Prancis, Selasa (9/6/2020). - Bloomberg/Nathan Laine\n
Nasabah mengantre di luar salah satu cabang La Banque Postal SA di Paris, Prancis, Selasa (9/6/2020). - Bloomberg/Nathan Laine\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Pembukaan aktivitas ekonomi di Eropa ketika banyak negara mencabut kebijakan lockdown justru menunjukkan pemulihan ekonomi masih jauh dari ekspektasi.

Data dan indikator ekonomi pasca lockdown menunjukkan aktivitas melambat signifikan pada tingkat lebih rendah sebelum krisis. Hal itu pun tak urung meruntuhkan harapan akan rebound dengan kurva membentuk huruf V. 

Alih-alih meciptakan pemulihan berbentuk V, bank sentral Prancis atau Bank of France dalam prakiraannya menyebut prospek ekonomi Eropa akan menyerupai sayap burung. Perhatian utama adalah bahwa beberapa negara mungkin harus mengaktifkan kembali lockdown ketika jumlah infeksi meningkat begitu aturan tersebut dilonggarkan.

"Output melonjak karena penguncian dicabut, tetapi pemulihan Eropa kini tampaknya telah berhenti antara 5 persen dan 10 persen dari normal. Aturan jarak sosial, kehati-hatian konsumen dan permintaan eksternal telah menurunkan batas atas ekonomi," kata Ekonom Bloomberg Jamie Rush, dilansir Selasa (18/8/2020).

Meskipun masyarakat kini sudah mulai beraktivitas, tetapi jumlah konsumsi berupa belanja rumah tangga atau makan di restoran tidak sebanyak sebelum pandemi menyerang. Pukulan terhadap industri pariwisata diperkirakan akan memburuk karena negara-negara memberlakukan kembali pembatasan.

Bagi banyak orang, kehancuran ekonomi yang paling parah masih akan terjadi. Sebagian besar pasar tenaga kerja sejauh ini dilindungi oleh program cuti pemerintah dan pinjaman besar-besaran. Dukungan tersebut akan dihentikan secara bertahap, sehingga pengangguran diperkirakan akan meningkat secara signifikan, memberikan kejutan lain pada permintaan.

Sudah ada tanda-tanda peringatan bahwa kawasan euro kehilangan 4,9 juta pekerjaan pada paruh pertama tahun ini. Perkiraan lebih banyak PHK telah merusak kepercayaan konsumen dan mendorong orang-orang menahan uang daripada membelanjakannya.

Ekonomi kawasan euro mungkin akan membukukan pertumbuhan pada kuartal ketiga, tetapi masih jauh dari harapan. Bahkan di Jerman, di mana jumlah kematian akibat virus lebih rendah dan kemerosotan ekonomi lebih dangkal, para ekonom tidak mengharapkan kembalinya tingkat produksi sebelum krisis tahun depan.

"Perekonomian mungkin akan pulih jauh lebih lambat daripada menyusut," kata Bundesbank dalam laporan bulanannya.

Alasannya bahwa ketidakpastian seputar infeksi baru membebani ekspor dan investasi perusahaan. Hal itu kemungkinan akan menghalangi pemulihan yang lebih luas dalam permintaan barang-barang industri Jerman.

"Sampai solusi medis yang efektif tersedia, aktivitas ekonomi akan tetap terbatas juga di beberapa bagian dari sektor jasa domestik," kata bank sentral.

Kondisi ini berlaku di semua sektor, meskipun beberapa bernasib lebih buruk daripada yang lain. Hotel dan restoran di Prancis, misalnya, masih melaporkan permintaan jauh di bawah normal.

Sementara itu menurut survei bank sentral, sektor seperti manufaktur mobil dan farmasi yang dengan cepat naik sekarang tidak bergerak dan bahkan mungkin turun pada Agustus.

Harapan jangka panjang tetap di bawah level sebelum virus. Indikator Utama Komposit OECD untuk Eropa, yang cenderung mendahului titik balik ekonomi sekitar enam bulan, menunjukkan rebound tajam pada Juni tetapi kecepatannya melambat pada Juli. Indikator untuk Spanyol membalikkan sebagian kenaikannya.

Pemerintah Prancis telah menetapkan tujuan untuk mendapatkan hasil ekonomi kembali ke level 2019 pada 2022. Namun, Menteri Keuangan Bruno Le Maire memperingatkan bahwa hal itu dapat tergelincir jika pandemi dibiarkan meluas sebagai akibat pengabaian protokol kesehatan.

"Pemulihan ekonomi berada dalam jangkauan, bertahap tetapi nyata. Kami memiliki segalanya untuk pulih dalam dua tahun mendatang, tetapi semua harus ikut bertanggung jawab," Le Maire.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi eropa pemulihan ekonomi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top