Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CEO Bytedance Sebut AS Ingin TikTok Benar-benar Mati

Melalui surat kepada seluruh karyawannya, CEO Bytedance Zhang Yiming mengatakan penyelidikan pemerintah AS terhadap pembelian Musical.ly pada 2017 sejatinya dimaksudkan untuk memacu penutupan total terhadap TikTok di masa mendatang.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  23:52 WIB
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada

Bisnis.com, JAKARTA – CEO Bytedance Zhang Yiming menyatakan bahwa upaya investigasi yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaannya bertujuan untuk mematikan TikTok.

Melalui surat kepada seluruh karyawannya, Yiming mengatakan penyelidikan pemerintah terhadap pembelian Musical.ly pada 2017 sejatinya dimaksudkan untuk memacu penutupan total terhadap TikTok di masa mendatang.

Menurutnya, meningkatnya tensi hubungan AS dan China membuat para politisi Negeri Paman Sam turut mendukung narasi bahwa TikTok dapat mengancam keamanan nasional. Para politisi juga berulang kali mendorong penyelidikan terkait tuduhan penggunaan data pengguna AS yang dimanfaatkan oleh China.

ByteDance yang berbasis di Beijing berulang kali menolak tuduhan tersebut. Namun perusahaan ini terus mendapat tekanan dari Gedung Putih dan anggota parlemen AS untuk menjual operasi TikTok di AS.

Perusahaan ini kini memiliki batas waktu hingga 15 September untuk merealisasikan penjualan tersebut kepada Microsoft Corp. Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengatakan setiap penjualan operasi TikTok di Amerika harus menyertakan pembayaran besar kepada pemerintah AS.

Dikutip dari Bloomberg, Zhang menyebut paksaan penjualan TikTok ini adalah tindakan yang tak masuk akal. Meski begitu, dia menyatakan bahwa hal ini tetap merupakan bagian dari proses hukum yang suka tidak suka harus dipatuhi oleh perusahaan.

“Tapi ini bukan tujuan mereka, atau bahkan apa yang mereka inginkan. Tujuan sebenarnya mereka adalah mencapai larangan operasi menyeluruh,” katanya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (4/8/2020).

Sikap Zhang mendapat dukungan dari taipan China Lee Kai-Fu yang menuliskan di media sosialnya bahwa apa yang terjadi dengan TikTok saat ini tidak dapat dipercaya. Mantan Kepala Operasi Google China itu juga menyatakan Trump tidak pernah punya dasar hukum yang jelas untuk melarang TikTok.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh China terhadap Google. Pemerintah China menurutnya punya aturan yang jelas dan tegas untuk melarang Google beroperasi di negaranya, sementara Trump tidak demikian terhadap TikTok.

ByteDance saat ini menyatakan tengah menjajaki semua kemungkinan untuk menyelesaikan konfrontasi intensif dengan AS. Startup terbesar di dunia itu menyatakan belum membuat keputusan akhir tentang opsi yang tersedia.

Zhang juga mengakatan ByteDance kini mendapat kecaman keras dari China seiring dengan kabar kemungikinan penjualannya ke Mircrosoft. Pemerintah China menyatakan tidak akan menerima akuisisi operasi TikTok A.S. oleh Microsoft Corp.

Pemerintah China juga menegaskan jika pihak Washington memaksakan terjadinya penjualan tersebut, maka mereka akan menyiapkan tindakan tegas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat TikTok

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top