Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Blokir Huawei, Inggris Diminta Pertimbangkan Ulang

Edward Brewster, juru bicara Huawei UK, meminta Pemerintah Inggris untuk meninjau ulang keputusan negara 'tersebut yang memblokir perangkat baru Huawei Technologies Co. pada akhir tahun ini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 Juli 2020  |  18:30 WIB
Logo Huawei Technologies Co. berada di atas gedung perkantoran di Dongguan, China, Kamis (23/5/2019). Bloomberg - Qilai Shen
Logo Huawei Technologies Co. berada di atas gedung perkantoran di Dongguan, China, Kamis (23/5/2019). Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Edward Brewster, juru bicara Huawei UK, meminta Pemerintah Inggris untuk meninjau ulang keputusan negara 'tersebut yang memblokir perangkat baru Huawei Technologies Co. pada akhir tahun ini.

Dia mengatakan keputusan ini akan memperlambat laju perkembangan digital di Inggris, mendongkrak biaya tagihan dan memperlebar kesenjangan digital di negeri itu.

"Kami mengimbau Pemerintah Inggris untuk meninjau kembali keputusannya. Kami masih menyakini bahwa pembatasan baru yang diserukan oleh AS tidak akan berpengaruh terhadap ketahanan atau keamanan produk-produk yang kami pasok ke Inggris," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Rabu (15/7/2020).

Dia melanjutkan, sangat disayangkan masa depan Huawei di Inggris telah dipolitisasi dan disandingkan dengan isu keamanan. Brewster menyesalkan dua puluh tahun dukungan Huawei pada jaringan Inggris harus diakhiri dan terdampak hubungan dagang yang memanas antara AS dan China.

Sebelumnya diketahui, perusahaan telekomunikasi Inggris tidak akan dapat menambahkan komponen Huawei baru ke jaringan 5G pada akhir tahun ini. Menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, semua perangkat buatan perusahaan yang berbasis di Shenzhen itu kemudian akan dicabut dari infrastruktur 5G pada 2027.

Kebijakan itu akan menandai batalnya keputusan PM Inggris Boris Johnson pada Januari lalu untuk menghentikan larangan pada Huawei. Johnson mendapat tekanan dari Donald Trump saat itu.

Berbaliknya sikap Johnson ini akan meningkatkan risiko ketegangan antara Inggris dan China pada waktu yang sangat sensitif. China sebelumnya telah memperingatkan Johnson akan menghadapi konsekuensi jika Inggris menempatkannya sebagai musuh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china inggris huawei
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top