Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Balas China, Trump Pertimbangkan Larang TikTok di AS

Pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk melarang aplikasi TikTok di negeri ini sebagai salah satu cara potensial untuk membalas China terkait penanganan virus Corona (Covid-19).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Juli 2020  |  06:52 WIB
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk melarang aplikasi TikTok di negeri ini sebagai salah satu cara potensial untuk membalas China terkait penanganan virus Corona (Covid-19).

Hal tersebut dikonfirmasikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (7/7/2020) waktu setempat, satu hari setelah Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan bahwa pejabat pemerintah sedang mempertimbangkan larangan aplikasi populer yang diinduki perusahaan China ByteDance Ltd. itu.

“Ya, ini sesuatu yang sedang kami pertimbangkan,” jawab Trump dalam sebuah wawancara dengan Gray Television tentang pernyataan Pompeo.

“Ini persoalan besar. Apa yang terjadi pada China dengan virus ini, apa yang telah mereka lakukan terhadap negara ini dan seluruh dunia adalah memalukan,” sambungnya, seperti dilansir Bloomberg.

Trump tidak menjabarkan secara spesifik tentang keputusan yang mungkin akan diambil pemerintah. Dia menuturkan bahwa pelarangan TikTok adalah "salah satu dari banyak" cara yang ingin ia lancarkan kepada pemerintah China karena Corona.

Virus mematikan itu telah menginfeksi hampir 3 juta orang di AS dan menewaskan lebih dari 130.000 orang hingga kini.

Di AS, dukungan untuk Trump sendiri telah melorot karena kritik seputar penanganannya terhadap wabah ini, termasuk penolakannya untuk secara tegas mendesak masyarakat Amerika mengenakan masker.

Sementara itu, menanggapi komentar Pompeo mengenai kekhawatiran soal kepemilikan platform TokTok sebagai salah satu alasan pertimbangan larangan, pihak TikTok menegaskan tidak memberi data para penggunanya ke China.

“TikTok dipimpin oleh CEO asal Amerika, dengan ratusan karyawan dan pemimpin yang mengawasi keselamatan, keamanan, produk, dan kebijakan publik di AS,” ujar seorang juru bicara perusahaan.

“Kami tidak pernah memberikan data pengguna kepada pemerintah China dan kami juga tidak akan melakukannya jika diminta,” tegasnya.

Bulan lalu, TikTok mulai mempekerjakan mantan eksekutif Walt Disney Co. Kevin Mayer sebagai CEO. Mayer juga menjabat sebagai Chief Operating Officer ByteDance.

Di AS, aplikasi TikTok telah diunduh lebih dari 165 juta kali, menurut perkiraan firma intelijensi aplikasi mobile SensorTower. TikTok telah membantah tuduhan bahwa platform ini merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Donald Trump TikTok
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top