Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fadli Zon Kritik Kasus Salah Tembak Satgas Tinombala, Ini Kronologinya

Warganet mengkritik kasus salah tembak yang dilakukan anggota satgas Tinombala. Akun Fadli Zon termasuk yang melontarkan kritik tajam.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 07 Juli 2020  |  09:07 WIB
Ilustrasi-Prajurit melakukan penjagaan saat Operasi Tinombala 2016 di Posko Operasi Tinombala 2016 Sektor II Tokorondo, Poso, Sulawesi tengah, Selasa (16/8/2016). - Antara
Ilustrasi-Prajurit melakukan penjagaan saat Operasi Tinombala 2016 di Posko Operasi Tinombala 2016 Sektor II Tokorondo, Poso, Sulawesi tengah, Selasa (16/8/2016). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Warganet termasuk akun Fadli Zon mengomentari kasus salah tembak oleh pasukan Satgas Operasi Tinombala di Kabupaten Poso yang menyebabkan dua petani meninggal dunia. 

Fadli mengomentari soal hilangnya nyawa dua petani yang mestinya tidak terjadi.

Seperti diberitakan Bisnis.com, dua petani Kabupaten Poso tewas ditembak pasukan Satgas Tinombala karena melarikan diri saat ditanyai identitasnya oleh pasukan yang tengah bertugas menangkap teroris di Poso tersebut.

"Murah sekali nyawa di Republik Indonesia, petani kok ditembak. Petani adalah tulang punggung ketahanan pangan, tanpa petani rakyat makan apa? Ironis, gembar gembor Pancasila, petani ditembak mati," ujar akun Fadli Zon.

Tak hanya Fadli yang berkomentar dengan nada negatif kepada aparat atas kejadian tersebut. Warganet lainnya pun mencuitkan keberatan senada.

Akun @syuaiby misalnya, menulis "kemarin pemuda baik2 yg kena tembak sekarang dua prg petani, katanya sesuai prosedure, salah sangka kok sesuai prosedure dimana akalnya ya?"
 Akun @jalanninja5 membandingkan tindakan polisi terhadap dua petani itu dengan tindakan terhadap

Sementara iu akun @Satriaarmi1 meminta agar Fadli Zon membaca dulu kronologi kejadian sebelum mencuitkan komentar dengan nada negatif.

"Baca dulu kronologis bos, jngn terlalu menyudutkan aparat yg sedang bertugas,jangan provokasilah.. Seolah2 nyawa tak ada harganya," ujar akun @Satriaarmi1.

Begini Duduk Perkaranya

Seperti ditulis Bisnis.com, dua petani di Kabupaten Poso tewas ditembak pasukan Satgas Tinombala karena melarikan diri saat ditanyai identitasnya oleh pasukan yang tengah bertugas menangkap teroris di Poso tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Awi Setiyono mengatakan bahwa tim Satgas Tinombala telah melaksanakan prosedur yang semestinya terkait kasus dugaan salah tembak terhadap dua petani di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.

Informasi tersebut diperoleh setelah Mabes Polri, dalam hal ini Danpas Pelopor dan Karo Provost Divpropam Polri terbang ke Poso pada 8 - 13 Juni 2020 untuk melakukan investigasi terhadap 12 anggota tim Satgas Tinombala yang bertugas saat itu. Lokasi penembakan yakni KM 09 Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso merupakan zona merah dimana kerap terjadi kontak senjata antara satgas dengan kelompok teroris.

"Sehingga demi menjaga keamanan dan keselamatan warga di wilayah tersebut, dibentuk Pos Sekat sebagai kontrol yakni bagi setiap warga yang hendak keluar atau masuk wilayah KM 09 harus lapor petugas terlebih dulu," tutur Awi di Jakarta, Senin (6/7/2020) seperti dilaporkan Antara.

Saat kejadian yakni pada 2 Juni 2020 sore, kondisi cuaca sedang hujan sehingga tidak ada masyarakat yang pulang. Dari hasil investigasi diketahui saat itu kedua korban memasuki area KM 09 dengan tidak melapor ke petugas Pos Sekat terlebih dulu.

"Sehingga aturannya, tim yang bertugas patut mewaspadai dan menghadang orang tak dikenal," katanya.

Awi menambahkan, petugas telah bertindak sesuai prosedur operasi standar dengan berteriak agar jangan bergerak/ jangan melarikan diri.

"Peringatan awal itu tidak dihiraukan sehingga petugas memberi tembakan peringatan, namun orang tersebut masih berupaya melarikan diri kemudian petugas melakukan penembakan mengakibatkan keduanya meninggal dunia," paparnya.

Kemudian Karo Provost telah menyambangi rumah keluarga korban. Pihak keluarga korban membuat pernyataan bahwa bila dalam pemeriksaan, ternyata petugas terbukti melakukan pelanggaran dalam bertugas, agar diberi hukuman saja dan tidak dikeluarkan sebagai anggota Polri.

Sebelumnya, dua petani asal Dusun Sipatuo, Desa Kilo, Poso yakni Syarifudin (25) dan Firman (17) ditemukan tewas saat tengah memanen kopi di kebun, Selasa (2/6).

12 Anggota Satgas Tinombala Diperiksa

Akibat insiden salah tembak tersebut, 12 anggota Satgas Tinombala ditarik ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan.

"Sebanyak 12 orang anggota tim Satgas Tinombala sudah ditarik dari daerah operasi ke Jakarta. Saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Biro Provost Div Propam Polri," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Awi Setiyono di Kantor Bareskrim Polri Jakarta, Senin (6/7/2020).

Sementara, terkait proyektil peluru saat ini sedang diperiksa di Puslabfor Bareskrim Polri.

Dari hasil investigasi, diketahui bahwa lokasi penembakan yakni KM 09 Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, merupakan zona merah yang kerap terjadi kontak senjata antara satgas dengan kelompok teroris.

"Demi menjaga keamanan dan keselamatan warga di wilayah tersebut, dibentuk Pos Sekat sebagai kontrol, yakni bagi setiap warga yang hendak keluar atau masuk wilayah KM 09 harus lapor petugas terlebih dulu," tutur Awi.

Dia menerangkan bahwa saat kejadian, anggota Satgas Tinombala telah melakukan prosedur semestinya.

Saat kejadian pada 2 Juni 2020 sore, kondisi cuaca sedang hujan sehingga tidak ada masyarakat yang pulang.

Saat itu kedua korban memasuki area KM 09 dengan tidak melapor ke petugas Pos Sekat terlebih dulu.

"Sehingga aturannya, tim yang bertugas patut mewaspadai dan menghadang orang tak dikenal," katanya.

Awi menambahkan, petugas telah bertindak sesuai prosedur operasi standar dengan berteriak agar jangan bergerak/ jangan melarikan diri.

"Peringatan awal itu tidak dihiraukan, sehingga petugas memberi tembakan peringatan, namun orang tersebut masih berupaya melarikan diri kemudian petugas melakukan penembakan mengakibatkan keduanya meninggal dunia," paparnya.

Masa Tugas Satgas

Satgas Tinombala dibentuk pada tahun 2016. Satgas dibentukan untuk mengejar kelompok teroris yang saat itu dipimpin Santoso. Setelah Santoso tewas tertembak, Ali Kalora disebut-sebut mengganti kepemimpinan kelompok teroris yang dikenal dengan nama kelompok Mujahidin Indonesia Timur tersebut.

 Polri memastikan tidak akan membubarkan Satgas Tinombala hingga Ali Kalora tertangkap.

Awi Setyono menyebutkan bahwa masa operasi Tim Satgas Tinombala berlaku hingga 30 September 2020. Hal itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: STR/360/VI/OPS.1.3./2020 ter tanggal 26 Juni 2020.

"Selama DPO atau target operasi belum tertangkap wajar saja kalau Operasi Tiombala diperpanjang," tutur Awi, Senin (6/7/2020).

Awi menjelaskan bahwa fungsi Satgas Tinombala mengedepankan penegakan hukum yang didukung oleh fungsi intelijen, Binmas dan Kepolisian.

Awi menjelaskan bahwa ke depan Satgas tersebut akan mengedepankan keselamatan rakyat untuk mewujudkan situasi yang aman dan kondusif.

"Jadi yang paling utama itu adalah keselamatan rakyat guna mewujudkan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah hukum Provinsi Sulawesi Tengah," katanya.

Tiga Kali Salah Tembak

Sejak Satgas Tinombala dibentuk pada tahun 2016, sudah terjadi tiga kali insiden salah tembak yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Pada Rabu, 27 Juli 2016, Satgas Tinombala salah menembak sasaran yang mengakibatkan satu dari tujuh orang tim satgas 1 Intelijen Tinombala atas nama Serda Muhammad Ilman tewas di daerah Desa Towu Kecamatan Poso Pesisir Utara sekitar pukul 12.30 Wita.

Kemudian, pada 9 April 2020, Satgas Tinombala kembali salah tembak. Kali ini, korban salah tembak Satgas Tinombala adalah seorang pemuda bernama Qidam Alfarizqi Mofance.

Terakhir, insiden salah tembak terulang pada Selasa, 6 Juni 2020, yang menewaskan dua orang warga sipil bernama Syarifuddin (37) dan Firman (18).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Operasi Tinombala

Sumber : Bisnis.com/Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top